SUJUD DI AL-AQSA

tembok ratapan masih sunyi sepagi ini
kutapaki selasar batu sejak masa Sulaiman
sisa hujan menciumi ujung kets kakiku
dingin menikam hingga tulang

kulewati tiga tentara zionis yang berjaga
gestur tubuhku bukan titik bagi mata curiga

ashar kemarin kusimak batu
di bawah kubah emas yang megah
jejak mi’raj Muhammad menujuMu
dan aku menapak ke dalam batu diri

di hampar karpet merah dingin dan lembab
sujud sunnah subuhku tak ingin lepas
tak ingin lepas
hingga azan memanggil deras

Baitul Maqdis, Januari 2020


DARI JENDELA BUS

Bus bergerak meninggalkan kota tua Jericho. Merayap menanjak
seperti menyeret beban air mata darah Palestina. Jendela bus merupa
layar kaca menayang ulang derita tak habis-habis. Di sebuah lembah
tenda-tenda kumuh pengungsi yang terusir
dari tanah sendiri, berdiri setengah hati.
Beberapa ekor domba kurus menyisiri
tanah mencari makan, merampas pikiranku yang basah.

Kemarin ziarah ke Gua Para Leluhur,
makam Ibrahim, bapak para nabi,
pemukiman Palestina terkunci mati.
Di pintu besi anak-anak berteriak dan menggoyang-goyang jeruji,
gemerincing ngilu suara lapar tak bisa ditawar.
Aku gagal melempar roti yang kusiapkan sebelum perjalanan.
Aroma gandum membeku ditelan
hawa dingin yang ekstrim.
Serdadu-serdadu zionis bersorot tajam,
sangat percaya diri dengan senjata-senjata mutakhir dalam genggaman.

Di dataran dan perbukitan luas tanah para nabi
merimbun ribuan pohon gharqad.
Pohon Jahudi yang dipercaya
tak akan bicara ketika mereka
sembunyi di akhir zaman.
Kecuali pohon-pohon lain dan batu-batu
akan berteriak membuka rahasia
debar ketakutan mereka.

Kembali aku seperti berdiri di bawah
tugu jam tua Jaffa. Menatap lekat.
Kapan jarum-jarum itu
berhenti menandai waktu akhir seteru?
Meski sejarah tak bisa diubah.

Kudengar debur ombak menghempas
sepanjang pesisir kota Tel Aviv.
Tak pernah sudah.

2020/2021


TEROWONGAN TERUSAN SUEZ

dari Sinai kita tinggalkan jejak Musa
bus merayap memasuki terowongan terusan Suez
tanganmu tak lepas di tanganku
kaucemaskan terowongan pecah
kita akan dihisap laut merah

aku tak hirau
dikecoh pesona musium Cairo
menyimpan mummi Pharao
memukau berabad perjalanan waktu
ruang menahun panjang kutunggu

terbayang makan malam
di kapal pesiar di atas sungai Nil
menikmati angin dan kerlip lampu kota
di geladak atas disukai para pelancong
tapi yang terjadi kemudian aku ingin muntah
dihidang tarian perut wadam paruh baya
buah dada palsu-nya tumpah ruah
ke lantai samar cahaya

sampai dini hari di Pyramids Hotel
kita tubuh-tubuh dihajar hawa ekstrem
gigil di bawah lapisan selimut
disisir rindu tak bisa direnggut

Kairo, Januari 2020

Facebook Comments