SANDIWARA KOTA

Aku ingin menonton sandiwara 24 jam di antara guyur gerimis. Biarkan kota terlelap
Dengan secawan anggur yang dijaja perawan berkulit langsat.
Aku ingin mengajakmu berkelana 24 jam. Menonton kota yang kehilangan lelucon.
Menuntun malam yang terhuyung di sebuah tikungan.

Mulai lagi, manisku. Sandiwara 24 jam menggelar kota dengan bayang-bayang jam gugur.
Kita saling membaca diri dan kau biarkan aku menenggak kegembiraan yang basah di bibirmu.

Surabaya, Januari 2021


KUTULIS GERIMIS

Kutuliskan gerimis ketika kau tak lagi ditemukan
sebagai biduanita yang mengejek bibir politisi.
Kutuliskan gerimis ketika kau tak lagi ditemukan menyanyi saban pagi
Seraya mengumpat politisi yang mabuk pajak negara.

Surabaya, Januari 2021


MELANKOLIA WAKTU

Minggu ini kau tak tiba dengan sepucuk surat. Hanya bayang wajahmu sekelebat.
Menjelma baris puisi gagal kucatat.

Barangkali lupa. Semalam hujan mengantar kabar. Kepada siapa
Pelukmu bakal bertandang, sementara aku telanjur khianat
Di sebalik maklumat,
“pekan raya, manisku, menyihir kenyataan menjadi lebih baka
Dari apa-apa yang belum selesai kita percakapkan”

Surabaya, Januari 2021


EPISODE SEPASANG KITA

Apalah menunggu bila bayang-bayang lesap ke ujung tidur
Memimpikan aku yang begitu penuh dengan hasrat

Apabila kau terjaga mendapati aku telentang di atas tumpukan surat lama
Cinta tak lagi terbaca—tak lagi berkaca
Masih penuhkah dadamu dengan pengharapan?
Bulan-bulan menghilang ke balik pintu
Kita sepasang cerita yang terus mengenang
Saling menduga di mana rahasia akan dicatatkan lebih dulu

Surabaya, Januari 2021

Facebook Comments