Di antara seluruh anggota Dinasti Hamengkubuwono, putra Raden Ayu Mangakarawati itulah yang paling banyak mewarisi sifat Sultan Suwargi pendiri Keraton Yogyakarta ketika berhadapan dengan Belanda. Tentu darah Bima serta Makassar dari nenek buyutnya, Ratu Ageng, dan darah Madura dari neneknya, Ratu Kedhaton, membuat Diponegoro kalah dari sang kakek buyut dalam soal menyembunyikan isi hati yang sebenarnya. Garis wajah Diponegoro, terutama ketika marah masih bisa dibaca. Hamengkubuwono I dahulu konon sangat merepotkan Belanda karena semua hal dia tanggapi dengan senyuman dan dengan air muka yang selalu sama datarnya. Itu senyuman seorang Jawa sejati yang bisa saja mengandung seratus makna dan seribu tafsir.

(Sang Pangeran dan Janissary Terakhir, hal. 192)

 

Seberapa kita mengenal Pangeran Diponegoro selain ia sebagai pahlawan nasional dan wajah di salah satu lembaran rupiah? Seberapa familiar kita dengan sosoknya selain gambaran visualnya memakai jubah dan sorban putih dengan keris yang terselip di pinggangnya?

Jika membaca buku sejarah mungkin pengetahuan kita menjadi agak bertambah. Bahwa Diponegoro adalah sosok yang memantik Perang Jawa, sebuah perang yang sangat lama (lima tahun) dalam sejarah negeri ini karena murka pada Belanda yang marampas tanah kediamannya di Tegalrejo untuk pembangunan kereta. Bahwa ia adalah putra dari sultan Yogyakarta, Hamengkubuwono III dari salah satu selirnya. Bahwa ia punya banyak istri. Bahwa ia mengangkat dirinya sebagai raja tanah Jawa dengan gelar Sultan Abdul Hamid Cokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Tanah Jowo. Demikian sejarah menceritakannya.

Kemudian hadirlah novel ini, Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Pengarangnya, Salim A. Fillah mencoba menceritakan kembali sosok ini, tentunya dengan rekonstruksi-rekonstruksi: menolak, menambahkan, atau menguatkan fakta sejarah yang telah mapan mengenai Diponegoro. Kita juga diajak memasuki dunia tokoh ini, semesta yang melingkupi Diponegoro, bersama deritanya, cita-cita besarnya, kemenangan dan kekalahannya, orang-orang yang membersamai dan menentangnya.

                Saya bukan termasuk pembaca setia buku-buku Salim A. Fillah yang selama ini memang tak pernah menulis fiksi. Buku-bukunya adalah buku keislaman dengan tema pengembangan diri, rumah tangga, dan remaja. Meski demikian, saya termasuk penggemar ceramah keislamannya di Youtube. Sebagai da’i, Beliau populer berjejer dengan da’i seperti Hanan Attaki atau Adi Hidayat, Dari video-video itu saya mengetahui kualitas verbalnya yang baik dalam menata kata dengan penuh hikmah, santun, halus dan indah, kualitas yang juga saya temukan di dalam novel ini.

                Salah satu kekuatan utama novel ini adalah keindahan narasinya. Sesuatu yang luar biasa bagi seseorang yang baru pertama kali menulis novel. Narasi dalam novel ini puitis tapi tidak klise, deskripsinya detil dan rinci menunjukkan dalamnya pengamatan terhadap obyek. Dan karena ini novel sejarah, kita boleh meyakini mendalamnya riset yang dilakukan penulis, terlihat dari keakuratan yang dijaga penulis terkait fakta dan obyek sejarah yang bersentuhan dengan novel ini. Meski demikian, karena ia adalah novel, sebuah karya fiksi yang tak terbantahkan, kita juga akan menemukan sejumlah tokoh dan kejadian fiktif yang berkelindan dengan runutan faktual sejarah. Menariknya, karena sejak awal penulis telah menyampaikan daftar tokoh nyata yang berasal dari lembar sejarah seputar Perang Jawa yang dipantik oleh Pangeran Diponegoro, maka kita langsung tahu sesiapa saja tokoh rekaan di novel ini.

                Sebagai plot utama, linimasa novel ini berada di sekitar tahun 1830, tahun terakhir Perang Jawa sebelum akhirnya Pangeran Diponegoro ditipu dalam sebuah perjanjian dan dibuang ke Makassar. Meski memiliki plot utama di tahun ini, pembaca mesti waspada pada keterangan tahun yang ada di awal tiap bab. Perlu ketelitian tiap babnya, karena pengarang sering mengalihkan plot ke masa lalu dengan intensitas dan variasi waktu yang cukup siginifikan. Di awal buku misalnya, kita justru dibawa menjelajahi Istanbul, lalu kita mungkin akan mundur sepuluh tahun dari plot utama, di tanah Jawa, dengan rangkaian peristiwa yang berbeda-beda sebelum kembali ke tahun 1830. Sementara itu, cerita dalam novel ini dipusatkan pada tiga bagian cerita: (1) pemerintah Belanda, terutama Gubernur Jenderal yang memerintah saat itu, Du Bus, dan penggantinya Van den Bosch, (2) Pangeran Diponegoro sendiri, (3) dan tokoh-tokoh rekaan, para pemuda Turki yang membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, porsi cerita mereka adalah yang paling banyak di dalam novel ini.

                Novel dibuka dengan narasi surat yang dikirimkan Perdana Menteri Daulah Utsamaniyah, Alemdar Musthafa Pasha, kepada Pangeran Diponegoro, yang isinya kekhalifahan Utsmaniyah siap membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Musthafa Pasha sendiri dikisahkan tewas dalam penyerbuan tentara Janissary Turki yang berkhianat, namun anak-anaknya, Nurkandam dan Nuryasmin disertai penasihatnya Khatib Basah, serta dua tentara Janissary yang setia, Orhan dan Murad berhasil lolos dan akhirnya mengambil peran dalam Perang Jawa sebagai prajurit-prajurit setia Pangeran Diponegoro.

Sementara itu, Pangeran Diponegoro di tahun 1830 bertahan keluar masuk hutan dalam kondisi sakit menyusul kekalahan demi kekalahan yang disebabkan strategi benteng (Belanda mendirikan benteng-benteng di berbagai tempat untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro), dan yang paling menyakitkan, penyerahan diri (istilah ini masih bisa diperdebatkan dengan istilah lainnya: pengkhianatan) atau penangkapan personel-personel inti pasukan Pangeran Diponegoro kepada Belanda, seperti Kyai Mojo yang ditangkap dan dibuang Belanda, menyerahnya Pangeran Mangkubumi dan Sentot Alibasyah.

Di sisi lain, novel juga menceritakan pemerintahan Belanda yang nyaris bangkrut karena Perang Jawa (sehingga saya sempat membaca entah di mana terkait kebangkrutan ini, bahwa seandainya Perang Jawa tetap dikobarkan beberapa waktu lagi setelah tahun 1830, kemungkinan besar Belanda dapat dikalahkan karena kebangkrutan yang begitu menyengsarakan mereka). Van den Bosch kemudian dikirim Kerajaan Belanda di Eropa untuk menggantikan Gubernur Jenderal Du Bus. Novel ini banyak menyajikan narasi diskursif, terutama Van den Bosch dengan berbagai pihak, serta narasi indiviualnya dalam menganalisis situasi di wilayah jajahan Belanda di Pulau Jawa.

Di kemudian waktu, setelah membuang Pangeran Diponegoro ke Makassar, Van den Bosch melaksanakan praktik tanam paksa di wilayah jajahan Belanda di Nusantara, terutama Jawa. Tanam paksa berhasil menjadikan Belanda sebagai pemasok rempah dan kebutuhan pangan dunia, bahkan konon sampai menyuplai 40-60% kebutuhan dunia. Kemakmuran Belanda ini menyebabkan Belanda merasa berutang budi pada rakyat Nusantara, yang memicu lahirnya kebijakan Politik Etis yang melahirkan kaum intelektual pribumi yang di kemudian hari membawa wacana kedaulatan dan nasionalisme sebagai cikal bakal Indonesia merdeka hari ini. Yah, begitu barangkali jika kita ingin mengambil hikmah dari semua rangkaian peristiwa sejarah ini.

Di bagian akhir, novel menceritakan kronologis penangkapan Pangeran Diponegoro di Karesidenan Kedu. Apa yang awalnya dijanjikan sebagai sebuah perundingan, menjadi proses penangkapan secara licik. Salah satu episode paling memilukan dari keseluruhan kisah ini.

Membaca hingga selesai novel ini akan membuat pembaca memahami Diponegoro dalam dua dimensi yang sekaligus menjadi titik tekan novel, Diponegoro sebagai lelaki Jawa dengan semua kebijaksanaan dan filosofinya serta Diponegoro sebagai pemimpin dengan pandangan religius. Sebagai lelaki Jawa, pembaca akan menemukan nilai-nilai kejawaan yang dianut Diponegoro dan pengikut serta kawulanya menempatkan mereka pada pucuk-pucuk kemanusiaan: kemampuan mengontrol emosi dan ekspresi, kebersamaan dan gotong royong yang kuat, kesabaran dalam menahan penderitaan. Seolah-olah pengarang ingin mengatakan bahwa menjadi lelaki Jawa adalah takdir terbaik bagi Sang Pangeran. Membawanya pada ketinggian karakter, terlebih saat dipadukan dengan pandangan religiusnya.

Kita dapat merasakan kekecewaan demi kekecewaan yang ditanggungnya, kematian orang-orang yang dicintai, pengkhianatan dan penangkapan orang-orang dekat, dan respon yang tidak diharapkan dari orang yang dipercaya dalam memberi dukungan dapat kita rasakan menyesakkannya. Namun ia menghadapinya dengan cara lelaki Jawa menghadapinya, demikianlah barangkali pengarang ingin menyampaikan. Saya akan kutipkan narasi terkait penangkapannya untuk pembaca sebagai sebuah gambaran.

“Jika begitu, marilah kita berangkat. Siapa yang akan menyertai saya, Jenderal?” Senyum tersungging di bibir Sang Pangeran, tetapi Mertonegoro tahu, senyum itu terbit dari rasa pahit dan malu yang tak tertanggungkan.

“Ah, tentu. Ajudan saya, Mayor De Stuers dan Mijnheer Letnan Kolonel J.J. Roeps yang fasih berbahasa Jawa semoga bisa menjadi teman ngobrol yang menyenangkan di perjalanan Pangeran.”

Diponegoro berdiri dan De Kock pun segera menggamit tangan Sang Pangeran dalam gandengan. Mereka melangkah keluar dengan tenang dan perlahan. Melewati ruang tamu, seluruh pengikut yang kesatria maupun ulama merundukkan kepala dan menghaturkan sembah yang hampir disentuhkan ke lutut. Beberapa tampak terisak-isak. Begitu pula di beranda, ada yang menghaturkan sembah dengan berulang kali jatuh bangun dengan kaki berlutut. Kadang sembahnya diangkat sampai tinggi, lalu tiba-tiba dia ambruk menyurukkan wajahnya ke lantai dan melolong dengan tangisan menyayat hati.

Di tangga beranda Wisma Karesidenan Kedu itulah Sang Pangeran berhenti sejenak. Dia mengedarkan pandangannya pada semua yang hadir. Waktu seakan berhenti di tempat ini. Angin mati. Bendera layu. Pepohonan bisu. Awan terdiam. Sinar mentari redup. Merapi dan Merbabu mengonggok lesu. Tak ada cericit. Tak ada desau. Tak ada suara. Tak ada kata-kata.

Tangan kanan De Kock menyentuh pinggang belakang Sang Pangeran, sementara tangan kirinya terentang menyilakan masuk ke pintu kereta kuda Karesidenan yang sudah terbuka. Diponegoro menarik napas dan agak membusungkan dada. Tangan kirinya mengepal keras di depan perutnya seakan dia meletakkan di situ seluruh amarah yang tergumpal-gumpal di dalam dirinya.

“Dikhianati tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah berkhianat. Ditipu tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah menipu. Dibunuh tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah membunuh,” tiba-tiba telinga Sang Pangeran berdenging oleh ucapan Kyiai Kwaron yang didengarnya di Selarong lima tahun lalu. Maka tangan kiri yang semula mengepal dia kibas. Dan tiba-tiba dia merasa bebas, (hal. 614-615)

 

 

Sementara itu sebagai pemimpin, Diponegoro sosok kharismatik yang memang kharismatik, sebuah kualitas yang memungkinkannya dicintai masyarakat Jawa dari berbagai kalangan, santri, priyayi, dan rakyat jelata. Pangeran Diponegoro sejak awal disegani karena menolak dinobatkan sebagai sultan di Kesultanan Yogyakarta menggantikan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III. Penolakan itu dianggap menunjukkan kualitasnya individunya yang tidak haus kekuasaan. Ketika ia mencetuskan Perang Jawa (lalu menyebutnya sebagai perang sabil) dan menobatkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat Jawa dalam persepktif religius, dapat dilihat dari gelar yang disematkan padanya.  Sebagian besar masyarakat mendukung. Dukungan yang membuat pasukan Pangeran Diponegoro  bertahan melawan selama lima tahun dan sebenarnya nyaris menang.

Hal lain yang menurut saya menarik terkait novel ini adalah diskursus yang disisipkan pengarang terkait hubungan Diponegoro dan Perang Jawa dengan kekhalifahan Turki Utsmani. Posisinya sebagai seorang da’i agaknya membuat Salim A. Fillah perlu menyampaikan pemikirannya tentang hal ini di dalam novelnya.

                Meski fakta sejarah tak pernah menyebutkan satupun kaitan langsung antara perang Jawa dan kekhalifahan Turki, relevansi keduanya tak bisa diabaikan. Gelar Sultan Ngabdul Hamid yang disematkan kepada Pangeran Diponegoro dianggap merupakan salah satu jejak rujukan yang menghubungkan keduanya, bahwa Abdul Hamid sendiri adalah salah satu nama dari khalifah Turki Utsmani, Abdul Hamid I dan Abdul Hamid II. Demikian pula nama Sentot Alibasyah merupakan nama yang tidak umum bagi muslim Jawa dan diduga dipengaruhi pengucapan kata pasha (basyah), gelar Amirul Mu’minin yang menjadi bagian dari gelar panjang Pangeran Diponegoro juga merupakan dugaan lain mengenai keterkaitan perjuangan Pangeran Diponegoro yang lokal dengan kekhalifahan Turki Utsmani dengan perspektif yang lebih global.

                Pandangan ini bertebaran di dalam novel ini, saya akan kutipkan beberapa di antaranya.

                                Dihantam sampai limbung oleh tulip dari Turki Utsmani, ditikam sampai sekarat oleh Pangeran dari Mataram. Kini dengan was-was dia mendengar selentingan bahwa Pangeran Diponegoro dari dinasti pecahan Mataram di Yogyakarta itu juga dikelilingi beberapa sisa pasukan Janissary dari Turki Utsmani, atau jangan-jangan malah dipersenjatai dan juga didanai. Dalam bentangan angan antara Istanbul dan Yogyakarta, Van den Bosch tahu bahwa musuh sejati kepentingan Eropa serupa saja di mana-mana. Ialah Islam dan ajaran jihadnya, (hal. 85)

 

 

                                “Masya Allah… Dari Ngerum? Negerinya para Sultan Khalifah?” begitu Sang Pangeran ketika itu berbinar-binar mendengar mereka memperkenalkan diri.

                                Sang Pangeran terkejut ketika Basah Khatib bercerita bahwa Alemdar Musthafa Pasha, ayah Nurkandam yang menjabat singkat sebagai Perdana Menteri Kesultanan Utsmani, pernah berencana mengirim pasukan Janissary ke Nusantara untuk membantu jihad melawan Belanda. Sayang, beliau terbunuh dan rencana  itu terkubur oleh penolakan para Janissary yang kesatuannya mengalami pembusukan dari dalam. Perang Turki-Rusia, Perang Yunani, dan Perang Sirbistan yang menyusul kemudian, sangat menyibukkan Daulah Utsmaniyah., (hal. 141)

 

                Wacana itulah yang coba diartikulasikan Salim A. Fillah dalam novelnya. Bahwa perjuangan pangeran Diponegoro tidak bisa dilihat secara sempit hanya sebagai perjuangan pribumi versus penjajah yang dipicu sengketa tanah. Namun lebih substantial dari itu. Saya pikir ini adalah diskursus yang segar untuk melihat sejarah Perang Jawa dari perpsektif yang lebih luas.

Sementara itu, pemicu Perang Jawa yang umum diketahui yaitu kemarahan karena tanah Pangeran Diponegoro di Tegalrejo hendak dijadikan jalan kereta belakangan dirasa sangat egois. Tak kurang Peter Carey, pakar Diponegoro, seorang dosen tamu Universitas Indonesia yang puluhan tahun meneliti mengenai Pangeran Diponegoro, menolak hal tersebut.

                Peter Carey, yang sangat bersesuaian dengan gambaran Diponegoro di dalam novel, menyebutkan Diponegoro memiliki pandangan sebagai Ratu Adil yang mengusahakan keadilan bagi rakyat Jawa di bawah penindasan Belanda. Pandangan itu berasal dari kecenderungan Pangeran Diponegoro yang religius.

Pandangan transenden Diponegoro di dalam novel digambarkan begitu mendalam dan komprehensif. Berikut saya kutipkan kembali, kali ini agak panjang mengenai pandangan tersebut, saya suka bagian ini soalnya.

                                “Tahukah kamu apa itu kekalahan?”

                                “Apakah seperti yang sedang saya alami sekarang, Kanjeng Sultan?” tanya Raden Basah Nurkandam dengan muka tertekuk, “Dikhianati dan ditinggalkan oleh orang yang sangat saya hormati. Perih sekali rasanya.”

                                “kalau hitungannya seperti itu berapa banyak kekalahan yang sudah aku alami, menurutmu?” Diponegoro tersenyum.

Nurkandam seakan baru menyadari, betapa banyak orang-orang hebat yang telah meninggalkan barisan Diponegoro. Ya, dia juga merasa sedih ketika Kyai Mojo ditangkap. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Dia juga merasa terpukul ketika sesepuh mereka Pangeran Mangkubumi akhirnya meletakkan senjata. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Dia pun merasa terguncang ketika Ali Basah Sentot Prawirodirjo menyeberang ke pihak musuh. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Dia juga tak terima ketika Ali Basah Kertopengalasan berubah menjadi perantara musuh untuk berdamai. Tapi bagaimana sedihnya Diponegoro? Belum lagi menghitung gugurnya Kyai Kwaron, Ali Basah Abdul Kamil, Pangeran Ngabehi, Raden Mas Joyokusumo dan Adikusumo. Tba-tiba Nurkandam merasa begitu lemah dan kekanak-kanakan. “Maafkan kecengengan saya, Kangjeng Sultan. Apa yang saya rasakan tentu saja tidak ada seujung kuku dari yang Paduka alami.”

                                “Oh, tidak, tidak. Aku tidak memintamu membanding-bandingkan penderitaanmu dengan penderitaanku. Aku hanya ingin kau merenungkan, apa sebenarnya makna kekalahan.”

                “Mohon Kangjeng Sultan memberikan pencerahan kepada Nurkandam yang dha’if ini…”

                                “Kekalahan itu ketika kita ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak kawan serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita tinggal sendirian, atau bahkan binasa dalam perjuangan,” (hal. 443)

 

                Di dalam novel ini kita akan menemukan Pangeran Diponegoro dalam perspektif kearifan Jawa dan kedalaman beragama. Keduanya menempatkan Diponegoro sebagai ksatria yang sesungguhnya. Perawakannya yang kecil tak mengurangi kualitas kemanusiaannya. Hal ini juga saya anggap sebagai kelemahan novel ini. Novel ini terjebak untuk menggambarkan karakter Diponegoro dengan dimensi ruhiyah yang nyaris sempurna. Penggambaran yang bisa dipahami. Salim A. Fillah, setahu saya, memang kurang pandai menggambarkan karakter-karakter buruk. Yah, tipe yang mencari bagian terbaik dari semua orang, bahkan Van den Bosch digambarkan dalam beberapa kesempatan menjadi pribadi yang begitu menyenangkan. Jika Salim A. Fillah benar-benar berniat menjadi novelis, ia harus belajar tentang hal itu.

Selain kekurangan di atas, hal lainnya yang bisa menjadi catatan kelemahan novel ini berkait dengan dialog para tokoh. Diponegoro dan sejumlah tokoh lainnya bertutur dalam narasi yang terlalu panjang dan itu cukup menganggu. Terkesan artifisial untuk percakapan yang alami. Hal ini barangkali dipengaruhi oleh kebiasaan bahasa verbal Salim A. Fillah sendiri sebagai pengarang. Sebagai seorang da’i, ceramah-ceramah Beliau memang narasi-narasi panjang nan puitis. Kebiasaan itu jelas memasuki novel ini.

Tulisan ini akan saya tutup denagn satu narasi paling menggugah saya di novel ini. Oh ya, novel ini jelas layak dibaca, saya merekomendasikannya bagi pembaca yang suka jenis novel sejarah religius semacam ini.

                Syaikhul Islam Halil Effendi tersenyum, “Akhirat adalah negeri kejutan bukan? Banyak ucap yang diremehkan, ternyata dosa mencelakakan. Banyak amal yang dibanggakan, ternyata sedebu berhamburan. Banyak dosa yang menghantui, ternyata paling diampuni. Banyak amal ringan dan terlupakan, ternyata justru menyelamatkan. Banyak kekasih yang dimesrai, ternyata musuh bebuyutan. Banyak saudara yang tersisih, ternyata menjadi pembela di hari pembalasan,” (hal. 225)

Selamat membaca. Wallahua’[email protected]

Facebook Comments