NASRUDDIN memiliki seorang sepupu yang suka bermain musik. Karena rumah mereka dekat, ia suka mengunjungi sepupunya itu untuk mendengarkannya memetik gitar. Satu kali Nasruddin bertanya, “Bagaimana caranya aku bisa memainkan alat musik dengan bagus sepertimu?” Sepupunya menjawab, bahwa Nasruddin harus ikut kursus dan latihan, dan ia menyarankan sebuah tempat belajar.

“Berapa biayanya?” tanya Nasruddin.

“500 ribu untuk pendaftaran dan biaya bulan pertama, dan 200 ribu untuk bulan kedua.”

“Baik,” jawab Nasruddin, “tolong daftarkan aku untuk bulan kedua!”

Di lain waktu masih dengan sepupu yang sama. Sepupunya ini ingin mencari penghasilan bermusik di daerah lain. Kepada Nasruddin, ia menitipkan ibunya serta keledai kesayangannya. Ia berpesan, “Nas, tolong jagakan ibu dan keledaiku! Aku mungkin pergi agak lama, tapi aku pasti akan kembali lagi. Tolong kabari aku jika terjadi hal yang tidak mengenakkan dengan ibu dan keledaiku.”

Nasruddin dengan arif berkata, “Pergilah, aku akan mengawasi ibumu dan keledai kesayanganmu!”

Setelah beberapa bulan, keledai sepupu Nasruddin sakit dan mati. Ia merasa bersalah sebab tak dapat menjaga amanah dengan baik, tapi karena tak tahu harus berkata apa ia mengirim surat dengan catatan yang sangat pendek. “Keledaimu mati.”

Tiba kepada Nasruddin balasan dari sepupunya, dan isi suratnya menegur Nasruddin. “Aku begitu sedih karena keledaiku telah mati. Tapi isi suratmu membuatku lebih sedih lagi. Mestinya kau dapat menjaga perasaanku dengan tidak langsung mengatakannya mati begitu saja. Mestinya kau lebih lembut, menyampaikan dengan halus dan perlahan-lahan. Seperti, ‘keledaimu bertindak sedikit aneh, kemudian binatang itu menolak makan dan semakin lemah, dan seterusnya… hingga mati’.”

Nasruddin membalas surat itu dengan menyampaikan bahwa ia telah salah dan memohon maaf atas kecerobohannya. Lain kali, tulisnya, ia berjanji akan memperbaiki sikapnya.

Waktu berlalu, lebih setahun beberapa bulan sejak kematian keledai itu. Dalam rentang beberapa bulan itu, beberapa kali sepupunya mengirim surat dan titipan uang untuk disampaikan kepada ibunya.

Sampailah waktu itu. Sepupu Nasruddin menerima beberapa surat dalam beberapa hari secara berturutan. Isi surat pertama cukup pendek, berbunyi, “Ibumu bertindak sedikit aneh.”@

Facebook Comments