Resensi Buku


Judul : Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta
Tahun : 2020
Tebal : xii + 192 hlm; 13,5 x 20 cm


MEMBACA
bukanlah suatu kegiatan untuk menonjolkan keunggulan diri di lingkaran pergaulan. Bukan pula sebatas memenuhi target tugas kuliah. Apalagi semata demi tampilan konten spesial di media sosial. Membaca, aktivitas yang bertujuan lebih dari sekadar memperluas cakrawala pengetahuan, ia merupakan upaya menembus dimensi kedalaman dari dunia gagasan dan pengalaman. Proses ini akan menjadi mungkin hanya jika aktivitas membaca dipertemukan dengan bacaan yang tepat. Sebuah bacaan yang mampu menarik pembacanya dalam bentangan peristiwa dari jalinan kata-kata, membawanya seolah-olah hadir dan terlibat di tengah berbagai arena peristiwa tersebut.

Kegiatan membaca bagi saya selalu menjadi aktivitas soliter yang sangat personal. Saat tengah membaca, seakan realitas di mana saya hidup mendadak lenyap dan tergantikan oleh realitas imajinatif dari bacaan saya. Sebagian orang menganggap momen ini sebagai perilaku eskapisme. Tapi sesungguhnya tidak. Justru, mengabdikan diri dengan membaca adalah upaya untuk memaknai dan menghayati realitas secara lebih utuh. Karya-karya sastra terutama, mempunyai kapasitas di ranah ini. Sebab karya sastra bukan saja merupakan cerminan dari realitas, melainkan konstruksi ulang atas realitas tersebut.

Berangkat dari pijakan itu, saya menemukan hal-hal yang relevan ketika membaca buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh sastrawan, Raudal Tanjung Banua, berjudul “Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan”. Demikianlah, tiba-tiba saya berkeinginan menulis sedikit ulasan hasil pembacaan saya atas cerita-cerita kecil karya Raudal.

Ketika buku tersebut dipublikasikan pertama kali di Facebook untuk open pre-order, saya langsung tertarik karena dua hal, yakni pertama, judulnya; kedua, desain sampulnya. Kombinasi antara keduanya, sesaat langsung mengembalikan saya ke dunia masa kecil yang saya rindukan sekaligus tidak saya rindukan, karena sadar dalam batas tertentu saya masih hidup di dunia itu. Setelah akhirnya saya memperoleh buku tersebut, edisi penghabisan dan gratisan, saya membacanya dengan sangat nikmat di sudut kamar. Tidak terburu-buru, cukup 1-2 cerita di waktu senggang, dengan segelas kopi yang membuat mata dan hati cerlang.

Buku Cerita-cerita Kecil berisikan dua belas cerpen dari tahun 2007-2016. Dinyatakan oleh penulisnya sebagai rangkaian “workshop” personal dalam suatu masa transisi penulisan yang bermaksud menjangkau “hal-hal kecil”. Cerita-cerita Kecil (2020) adalah seri kedua setelah sebelumnya buku Kota-kota Kecil (2018) menjadi seri perdana. Penempatan cerita disusun berdasarkan periode penulisan, tapi sesungguhnya juga dapat dilihat sebagai perjalanan arus balik dalam menziarahi memori-memori masa lampau. Di dalam cerita-ceritanya Raudal bergerak dari ingatan ke khayalan, dari kenangan ke kerinduan. Mengolahnya menjadi sebuah kenyataan baru yang subtil antara batas realitas dan imajinasi.

Keharuan yang Jenaka

Raudal membuka kisahnya dengan sebuah cerita dari sang ibu. Sebuah cerita atas cerita. Cerita berlapis dari beberapa cerita yang berhasil Raudal tangkap dan ingat dari jejak kenangannya terhadap mendiang ibunda. Memasuki cerita-cerita tersebut, pembaca akan memperoleh suguhan dongeng lokal yang sarat nilai. Raudal pun membawakannya dengan teknik mendongeng. Seakan membaca “Kisah 1001 Malam”. Menariknya, dalam penulisan judul-judul cerita Raudal menyematkan kata sifat untuk menegaskan inti tema yang dia bangun, sekaligus menurut saya untuk mengekspresikan suasana kerinduan yang menyertai penuturan kembali kisah tersebut.

Dengan gaya berceritanya yang riang dan jenaka, Raudal mengisahkan peristiwa-peristiwa yang pernah dia alami, yang masih terkenang hingga sekarang. Kilas peristiwa yang terkadang diam-diam menyusup kala diri sedang mencoba memaknai hari. Terlepas dari kejenakaan gaya, secara substansi cerita-cerita tersebut menyemburatkan keharuan di dalamnya. Sebuah kualitas yang hanya bisa dirasa apabila pembaca berdialog batin dengan bacaannya.

Berdialog dalam arti, terserap dan hadir sepenuhnya di peristiwa-peristiwa yang terlukiskan dalam tulisan. Cerita-cerita kecil Raudal memiliki kemampuan menyedot semacam itu terhadap pembaca. Narasinya ringan, tidak berangan-angan membikin orang terpukau, dan justru karena kemurnian daya ungkapnya mampu membuat orang tersentuh.

Bahwa pada hakikatnya, buku teori maupun sastra berangkat dari basis pengetahuan dasar, yakni realitas dan pengalaman, sebuah cerpen pun tidak terkecuali. Namun barangkali, tidak banyak penulis yang dengan sengaja mengisahkan pengalamannya sendiri sebagai tema atau latar utama dari karyanya.

Raudal mengoperasionalkan serpihan-serpihan masa silamnya tersebut menjadi serangkaian kisah yang mengetuk kesadaran pembaca bahwa kesejarahan personal merupakan harta karun kreativitas.

Saya iri, generasi saya pun setelah saya memang sudah sepatutnya iri dengan generasi di mana Raudal lahir dan dibesarkan. Kultur tradisi lisan pada periode itu menjadi kekuatan peradaban yang memungkinkan terjadinya penyebaran pengetahuan sekaligus pembentukan karakter. Saya tidak mengalami masa kecil yang banyak mendengarkan cerita atau dongeng dari nenek maupun orang tua saya. Ihwalnya, saya anak kandung ibukota yang kemudian remaja bermigrasi ke tepian Jakarta. Sehingga akses ke pengetahuan leluhur terputus. Juga, barangkali karena radio dan televisi sudah mengambil alih tugas luhur tersebut.

Secara khusus, cerita-cerita kecil dari ibu, ayah, dan nenek yang sangat kental dongeng cukup menuntaskan dahaga saya akan legenda-legenda rakyat yang pernah dibaca semasa kecil. Membacanya, seakan menerbangkan diri saya ke perpustakaan SD yang penuh debu dan usang. Namun setidaknya, menyantap buku cerita di sana dapat membangkitkan kembali keriangan di tengah jenuhnya hari. Salah satu cerita Raudal yang menggugah ialah “Kisah Cinta Menikung di Tukang Kabung”. Sesaat kita akan digiring ke uraian kisah tentang laki-laki misterius, hidupnya terluka, namun tak dinyana berujung bahagia.

Kritik Diri; Kritik Negeri

Berangkat dari latar budaya dan geografis di tanah Sumatera Barat, Raudal dengan fasih menuturkan cerita-cerita kecilnya tumbuh dari konteks sosial-ekonomi-politik yang cukup kompleks. Sebuah cerita dapat tampil dari muasal aspek sejarah politiknya yang kelam, dan dapat pula dari jeritan kondisi sosial ekonominya yang menggelikan. “Menggelikan” untuk merujuk pada sebuah fenomena satir atas kehidupan masyarakat manusia. Meskipun suara yang digemakan Raudal dalam cerita-cerita kecilnya adalah suara keprihatinan, tidak sedikitpun dia mendramatisir kesengsaraan. Sebaliknya, hal-hal menyedihkan itu justru disajikan dengan ragam kekonyolan. Namun tetap, keharuan itu ada.

Seperti kisah mengenai wabah di kampungnya yang berjejalin dengan dongeng “Tudung Periuk dalam Kuali” di mana masyarakat dulu sering berbagi cerita sebagai pelipur lara, tetapi di masa kini kegiatan tersebut telah digantikan oleh propaganda media. Alhasil, efek yang tercipta bukan meredakan duka manusia karena tekanan kemiskinan, malah meledakkan amarah terpendam yang selama ini menghuni hati.

Dalam beberapa cerita kecilnya, Raudal menggunakan serta mengorelasikan sejarah politik nasional dengan berbagai peristiwa di tingkat lokal. Terutama, terkait dengan pembentukan perspektif, nilai, atau stigma tertentu yang berhembus dalam wujud kabar dan gosip di warung-warung kopi. Sisipan kisah tentang PRRI atau Laskar Merah, propaganda media maupun intrik pemda, merupakan beberapa latar isu yang coba dibabarkan oleh Raudal sebagai sebuah kesadaran sejarah.

“Cerita Rakyat dari Daerahku Atawa Dendang Membara Pirin Bana” sangat kuat menggambarkan pergulatan seni tradisi lokal sebagai media kritik sosial. Di dalam cerita kecil ini terjadi persinggungan antara seniman dengan relasi kekuasaan yang bermain di sekelilingnya. Pembaca akan menyantapnya tidak sebagai karya cerpen belaka, melainkan proposisi kasus yang berpotensi melahirkan analisis sosial.

Dalam menitiskan kata-katanya, penulis dapat saja tidak bermaksud mengarahkan kritik kepada pihak tertentu. Atau memang dengan kesadaran melakukan hal tersebut, sebagaimana idealnya hal itu menjadi landasan moral dalam sebuah karya sastra. Raudal mungkin berdiri di antara keduanya. Dongeng-dongeng leluhur yang ia tuturkan kembali sudah pasti menjadi sebuah kritik diri, minimal bagi Raudal sendiri. Cerita-cerita dari desanya pun secara tidak langsung dan tidak mengipaskan bara ketimpangan sosial yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. Sebuah kritik atas struktur dan sistem kekuasaan, minimal di tingkat lokal.

Negeri Indonesia selalu berproses dinamis dalam rentang sejarah yang penuh konflik dan polemik. Hal itu dilihat secara mikroskopis oleh Raudal melalui peristiwa dan tragedi yang terjadi di lingkungan masa kecilnya, kampung tempat tinggalnya sebelum ia merantau ke Bali dan Jawa. Cara ia menceritakan oknum atau kasus tertentu sangat natural, tanpa adanya nuansa penghakiman. Pembaca lah yang diberi kebebasan untuk memilih posisi politik maupun pijakan nilai dan moralnya. Meskipun demikian, cerita “Bersin” terkesan agak gagap dalam menganyam kesesuaian antar cerita dengan topik besar yang coba diangkat. Atau barangkali karena teknik penceritaan yang digunakan memang berbeda dengan cerita-cerita kecil lainnya.

Terlepas bahwa tiap cerita kecil yang disajikan oleh Raudal mengandung aspek kritiknya sendiri, pembaca dapat menikmatinya sebagai sebuah tamasya menjelajahi jejak-jejak memorabilia dari masa lalu Raudal. Mungkin saja aktivitas tamasya tersebut sedikit banyak akan bersinggungan dengan proses menelusuri pengalaman pribadi pembaca, sehingga menetaskan renungan baru atas hidup yang dihidupi. Di titik itu, membaca menjelma sebuah upaya pengenalan terhadap sosok penulis sekaligus diri sendiri.

Tidak ada yang bisa menggantikan keindahan masa kecil dengan keluguan dan keceriaannya. Manusia berkembang semakin matang hanya untuk menyadari bahwa apa yang dialami di waktu lampau tak lagi terjangkau, kecuali dengan perjalanan di lorong ingatan. Raudal berhasil menstrukturisasi ingatan dan kenangannya melalui “Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan”. Mengantarkan pembaca untuk meniti jalan penziarahannya sendiri. Jika Anda telah mendapatkan buku terbaru Raudal ini, buka dan baca dalam ruang-waktu yang paling nyaman. Dan jadikan kegiatan membaca ini sebagai gerbang kepulangan menuju diri.@

 

Facebook Comments