Ada banyak penyair di negeri ini, namun barangkali tak ada yang tak jatuh cinta paling tidak sekali seumur hidupnya pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Tak terkecuali saya, dan teman-teman saya, mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yang karena sebab fokus perkuliahan telah memaksa kami menggeluti sastra Indonesia, terjerembab berkali-kali dalam rasa cinta pada puisi-puisi Sapardi.

Saya bahkan mulai terbius dalam sihir kata Sapardi sejak Sekolah Menengah karena di antara buku-buku tua yang bisa dibaca di perpustakaan sekolah, terselip satu dua kumpulan puisi Sapardi. Saya bahkan pernah meminjam satu buku kumpulan puisi Sapardi berjudul Mata Pisau di perpustakaan daerah Kalsel selama bertahun-tahun sebelum mengkonfirmasi keberadaan buku tersebut pada pihak perpustakaan.

Oh ya, sebelum membicarakan Sapardi dan puisi-puisinya lebih jauh, saya secara khusus mengucapkan terima kasih pada pihak perpustakaan daerah Kalimantan Selatan terkait Sapardi Djoko Damono. Pertama karena telah mengampuni saya terkait buku Mata Pisau yang saya pinjam bertahun-tahun. Hehe. Yang kedua, karena kegiatan yang mereka selenggarakanlah, saya bisa bertemu langsung dengan Sapardi tahun 2018 lalu. Saya menemukan, sosoknya memang selirih puisi-puisinya, dan saya merasa beruntung. Bagaimana tidak, tak setiap hari kita bertemu dengan orang yang mengajari kita bagaimana caranya menulis puisi hanya dengan membaca puisinya.

Kepenyairan sejumlah orang juga berasal dari puisi-puisi Sapardi. Saya mengenal beberapa orang, termasuk saya, yang gaya menulis puisi dan bahkan acuan dalam pemilihan diksi, berasal dari perbendaharaan puisi Sapardi. Puisi-puisi yang lirih, puisi dengan diksi-diksi mewakili kedalaman perasaan. Puisi-puisi yang ditulis utuk mengungkapkan bagian-bagian tertentu dari kondisi jiwa.

Saya menulis puisi saat jatuh cinta, saat patah hati, saat kecewa, saat penuh tekad, saat jatuh, saat bangkit. Barangkali inspirasi itu datang dari Sapardi juga. Puisi-puisinya seakan tak pernah terlihat terpaksa untuk menceritakan sebuah peristiwa besar umat manusia, tak juga terpaksa mengisahkan perihal-perihal tematik. Puisi-puisinya banyak bicara tentang apa yang dirahasiakan hati, apa yang dirasakan jiwa. Puisinya tak gegap gempita, puisinya lirih.

Lingkaran teman dekat saya bahkan mencintai puisi-puisi Sapardi lebih mendalam daripada saya, maka ekspresi mereka lebih puitis daripada saya tentu. Saya ingat pernah mengelola majalah dinding kampus dengan mereka, dan tiap penerbitannya adalah selebrasi puisi kamar yang inspirasinya berasal dari seorang penyair ini. Kini mereka sebagiannya telah benar-benar menjadi penyair yang sebenar. Puisi-puisinya telah pula matang bersama kematangan usia dan pengalaman. Meski demikian, kita masih bisa merasakan samar-samar nuansa Sapardi dalam puisi-puisi matang itu. Sebuah penanda kedalaman cinta, dan kelanggengan inspirasi.

Pun, tak ada satu puisi yang saya hapal, bahkan puisi saya sendiri, selain puisi Aku Ingin karya Sapardi. Saya bahkan terpukau saat puisi itu bahkan dihapal seorang teman kuliah dari jurusan eksak yang tak memiliki sedikitpun urat apresiasi karya sastra dalam nadinya. Barangkali jutaan orang lain juga hapal puisi ini, menjadikannya sebuah monumen pengakuan bahwa, ya, setiap orang pada akhirnya bisa menyukai puisi seberjarak apapun ia dari dunia susastra yang memang sejak awal cukup kukuh meletakkan dirinya agar tak bisa disukai sembarang orang. Terlalu banyak syarat berkait citra rasa, common knowledge, dan tetek bengek yang bahkan merupakan mitos untuk benar-benar bisa menikmati karya yang digolongkan bernilai sastra. Meski demikian, puisi-puisi Sapardi telah mampu membawa dirinya keluar dari anggapan umum tentang eksklusifitas karya sastra.

Kata-kata dalam larik-larik puisi Sapardi telah mampu menyederhanakan persoalan menikmati karya sastra, mungkin karena ia banyak bicara tentang persoalan yang dialami tiap orang, ia banyak membicarakan cinta. Puisi-puisi (cinta) Sapardi bukan puisi cinta murahan yang lahir dari benak yang vulgar, ia lahir dari kedalaman ekspresi tentang cinta yang hadir dengan bahasa yang sederhana namun memikat. Bila demikian, siapa yang tak jatuh cinta pada puisi-puisi semacam itu. Puisi-puisi yang tidak terlalu gelap untuk dipahami, dan tidak terlalu transparan untuk kehilangan nilai estetikanya. Puisi-puisi Sapardi adalah hidangan yang komposisinya serba lezat untuk dinikmati siapa saja.

Maka, kehilangan Sapardi Djoko Damono hari ini, kita bukan saja kehilangan penyair besar dalam jagat kesusastraan Indonesia modern, namun kita juga kehilangan artikulator perasaan-perasaan kita.

Syukurlah puisi-puisinya abadi. Hanya akan ikut pergi bersama kiamat. Sebelumnya kita masih akan bisa membacanya, menikmatinya, dan mengklaim isinya sebagai sebenar isi hati kita. Syukurlah puisi-puisinya akan tetap bisa mewakili kita dalam mengartikulasikan bagaimana perasaan kita, dengan lirih, dengan jujur.

Bagi saya, Sapardi adalah penyair dengan segenap kesejatiannya. Sebuah karya dapat dikatakan sebagai puisi yang baik paling tidak memenuhi sayarat kepadatan kata dan keindahan gaya bahasa. Diksi-diksi puisi Sapardi tak kurang dalam mengejawantahkan itu. Bagaimana misalnya kita mendapati personifikasi sempurna dalam bait aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dan kita juga akan bisa menangkap kepadatan tiap katanya, kedalaman makna yang bisa terus digali tak henti-henti. Cinta seperti apa yang sedemikian paripurna dalam berkorban?

Dengan demikian, dalam satu dan lain cara, orisinalitas puisi-puisi Sapardi sulit dicari tandingannya dari masa ke masa dalam dunia kesusastraan Indonesia. Ada banyak yang mengikutinya, namun hanya satu Sapardi, dan puisi-puisinya.

Dengan kepergiannya, puisi-puisi menakjubkan itu akan berhenti lahir, meski demikian, apa yang sudah ditulisnya akan abadi. Karena, yang fana adalah waktu, puisi-puisi Sapardi akan terasa abadi.

Terakhir, izinkan saya menuliskan kembali satu puisi Sapardi Djoko Damono yang paling saya sukai. Sejak dulu, saya selalu memaksudkan puisi ini untuk sesiapa yang saya cintai. Terima kasih Pak Sapardi, telah mengartikulasikannya.

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

 

Wallalula’[email protected]

 

Facebook Comments