Suatu hari Nasruddin sakit keras. Dipanggillah dokter ahli untuk memeriksanya, sementara keluarganya mengelilinginya dan meratapinya.

Semua yang di dalam ruangan diam, hening, mereka menunggu hasil pemeriksaan sang dokter ahli. Setelah beberapa lama, dokter berpaling kepada istri Nasruddin yang duduk paling dekat dengan pembaringan suaminya yang dingin.

“Wahai istri Mulla, hanya Allah yang abadi. Dengan penuh penyesalan harus saya katakan bahwa suami Anda telah meninggal. Dia sudah mati. Rohnya telah terbang ke pangkuan Allah rabbul izzati…”

Saat sang dokter menyampaikan hasil analisanya dengan indah, Nasruddin memprotes dengan lemah. “Tidak, tunggu! Aku masih hidup, aku masih hidup!” Istrinya yang mendengar suara lirih itu membentaknya, “Diam! Dokter sedang bicara, jangan berdebat dengannya!”

Cerita konyol ini berlanjut dengan keyakinan pada hasil analisa dokter, dan jasad Nasruddin yang lemah telah ditandu dalam peti mati ke arah pekuburan kaum muslimin. Ia diantar rombongan pelayat yang cukup banyak. Nasruddin, yang sebenarnya masih hidup, tiba-tiba membuka penutup peti matinya dan duduk. Terjadilah kegemparan dan perdebatan.

“Bagaimana ini, bukankah tadi kata dokter Mulla telah meninggal?”

“Ya, perkara ini telah jelas. Ini buktinya!” Seseorang maju ke tengah rombongan pelayat dan penandu, membawa secarik kertas hasil analisa dokter. Dan tertera dengan gamblang: Nasruddin telah mati! Orang-orang pun tenang. Kepada Nasruddin yang tengah duduk dengan kondisi lemah diberitahukan hal itu, maka ia patuh dan kembali berbaring. Prosesi penanduan pun dilanjutkan.

Dalam perjalanan ke komplek pekuburan seseorang tiba-tiba mengajukan pertanyaan terkait hukum fikih membawa keranda mayit. Apakah para pelayat seharusnya berjalan di sisi kanan atau sisi kiri peti mati? Apakah boleh berjalan di depan atau hanya harus mengiring di belakang? Sekali lagi rombongan berhenti, dan menanyakan, siapa di antara mereka yang bisa berfatwa?

Dalam rombongan itu ternyata ada beberapa ahli, mereka ada yang mengajukan diri dan ada pula yang diajukan oleh orang lain. Terjadi perdebatan kemudian. Dan antara masing-masing orang saling berbeda pendapat. Cukup lama tak juga masalah itu terselesaikan. Nasruddin yang sudah tidak tahan lagi, kepanasan di dalam keranda peti mati, kembali menegakkan tubuhnya dengan lemah. Kali ini ia bersuara lebih keras.

“Dengan ini aku berfatwa, boleh hukumnya bagi yang masih hidup untuk berjalan di kanan, di kiri, di depan atau di belakang peti mati, selama orang itu tidak sedang berada di dalam peti mati ini!”@

Facebook Comments