Ada yang menarik dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan yang baru usai menggelar Temu Penulis dan Peluncuran Aplikasi Baca Sastra di Berlian Room, Hotel Q Dafam, Kota Banjarbaru, Minggu, (12/12/2021).

Adalah pernyataan kepala Balai Bahasa Muhammad Luthfi Baihaqi yang berkomitmen merangkul para penulis lokal serta menjalin kerjasama dengan para penerbit. Bisa itu penerbit indie yang ada di sekita Kalsel, bahkan penerbit mayor sekelas Gramedia, Alex Media Komputindo.

“Kita dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan tentu senang. Saya rasa di Kalsel terutama di Banjarbaru intensitas giat sastranya selalu meningkat. Kita kerjasama dengan penerbit dari Gramedia untuk membicarakan apa dan bagaimana bagaimana supaya bisa masuk ke sana tentunya,” ujar Luthfi diwawancarai sejumlah media termasuk tim redaksi asyikasyik.com 

Peluncuran aplikasi Baca Sastra juga menjadi perhatian yang khusus. Sebab, para pengunduh bisa langsung membaca karya penulis banua. Hari itu juga menandai rilisnya Kumpulan Cerita Bergambar “Irai” buah dari Hudan Mika Oktawanna.

Kegiatan dihadiri 40 orang peserta dari 3 angkatan kelas menulis, 9 pendamping kelas; masing-masing 3 orang dari asyikasyik.com, Komunitas Suluh Literasi, dan Kindai Seni Kreatif. Kata Luthfi, kegiatan Literasi apa pun itu akan menjadi misi mulia dan bijaksana.

“Kegiatan ini menjadi misi mulia kami sebagai Balai Bahasa untuk mempermudah anak-anak atau penulis secara luas mempublikasikan tulisannya, ya dengan aplikasi Baca Sastra yang kami luncurkan,” terangnya.

Dia menjelaskan, sebenarnya banyak sastrawan lokal yang mumpuni dalam segi kualitas dan kuantitas. Hal tersebutlah yang perlu dipupuk, dikembangkan lagi, bahkan diwariskan ke penulis-penulis muda yang baru mulai tumbuh.

“Maka dari itu kita rangkul. Duduk bersama. Sama-sama mencari cara dan solusi agar para penulis di Kalimantan Selatan semakin dikenal,” bebernya.

Perihal aplikasi Baca Sastra, ia menjelaskan akan banyak buku digital di dalam web yang bisa diakses oleh siapa saja.

Kegiatan itu sekaligus menandai rilisnya IRAI cerita bergambar karya Hudan Mika Oktawanna. 

TENTANG IRAI

Irai adalah cerita bergambar yang sudah tayang di laman www.bacasastra.id  yang digarap oleh penulis Hudan Nur berkolaborasi dengan ilustrator Mika August dan diselaraskan oleh Oktawanna menjadi komik. Sebelumnya di laman baca sastra telah tayang 4 seri IRAI yang cukup menjadi perhatian pembaca. Atas inisiatif Balai Bahasa 4 seri IRAI tersebut akhirnya dibukukan menjadi khasanah literasi Banua.

Irai adalah ikonik kesetiaan yang sudah menjadi fitrahnya. Irai yang dalam buku ini merupakan burung enggang gading dan sudah menjadi pengetahuan umum kalau burung enggang hanya setia pada satu pasangan. Enggang gading tidak hanya dikenal berani tetapi memiliki kekuasaan dan kekuatan.

Buku ini terdiri atas empat seri yang bergenre fabel dan berkonten lokal, setting cerita di Pegunungan Meratus, Gunung Halau-Halau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimatan Selatan. Serial Irai adalah cerita moral yang mengandung pesan untuk pelajar SD/sederajat dengan mengangkat beberapa binatang sebagai tokoh-tokohnya.

 

Pada kesempatan tersebut juga ada penyerahan penghargaan kepada peserta terbaik selama 10 kali pertemuan. Peserta terbaik Kelas Menulis Kreatif bersama asyikasyik.com: terbaik pertama, Zulfan Fauzi. Terbaik kedua, Aluh Srikandi. Terbaik ketiga, Rory Aksara.

Peserta terbaik Kelas Menulis Anak bersama Komunitas Suluh Literasi: Terbaik pertama, Anggreini Nur Aprisa. Terbaik kedua, Sabiq Al’labih ‘Ibadurrahman. Peserta berbakat: Anthonia Putri Utami. Cerita terbaik: Queensha Azkiyatus Shalehah. Kelompok terkompak dan penampilan seni terbaik: Kelompok Chairil [email protected]

Facebook Comments