JAMAL T. SURYANATA yang terlahir dengan nama Jamaluddin pada 1 September 1966 di Kandangan (Hulu Sungai Selatan) adalah alumnus STKIP PGRI Banjarmasin yang sejak muda mencintai puisi. Mengambil Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID). Huruf “T” pada nama pena tersebut diambil dari nama daerah, tempat lahir Jamal yaitu di Taniran. Dalam menulis ia juga kerap menggunakan nama pena Jamaluddin El-Banjari. Jamal belajar menulis sejak akhir 1980-an dan serius menggeluti sastra sejak awal dekade 1990-an.

Berkah intelegensia yang dimilikinya serta dedikasi kepengarangan, Jamal dinobatkan sebagai salah satu penerima Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (bidang sastra) tahun 2006, penerima Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (bidang cerpen) tahun 2007, penerima Anugerah Budaya dari Gubernur Kalimantan Selatan tahun 2015, salah satu penerima dari sepuluh alumnus berprestasi Alumni Award dari STKIP Banjarmasin, bukunya yang berjudul Sastra di Tapal Batas terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dari Pemerintah Malaysia tahun 2016, penerima Hadiah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung atas novel berbahasa Banjar Pambatangan tahun 2017 dan novelet Naga Runting tahun 2022.

Torehan prestasi Jamal yang sangat mencolok, mau tak mau dengan sendirinya menggiring namanya menenteng daerah Kalimantan Selatan ke pelosok negeri. Beberapa kali, di kenduri sastra yang pernah saya hadiri di luar daerah, sejumlah nama-nama pesohor dan pelaku sastra tanah air menanyakan dirinya. Ada dua nama yang sering sekali disebut, ketika berpapasan dengan saya; Ajamuddin Tifany dan Jamal T. Suryanata yang keduanya dikenal sebagai Penyair Abad 21.

saya sendiri baru bertatap muka langsung dengan jamal. t suryanata pada 30 oktober 2002 di taman budaya Provinsi kalimantan selatan  banjarmasin

dari kiri; Subroto, Tajuddin Noor Ganie, Jamal T. Suryanata, Jarkasi

Saat itu, Jamal menjadi salah satu pemrasaran 15 penyair Kota Banjarbaru bersama Subroto M.Ed. dalam acara Sarasehan Sastra. Sementara sebagai pembanding dalam kegiatan tersebut adalah Drs. Jarkasi didampingi moderator Tajuddin Noor Ganie. Dalam sarasehan tersebut karya-karya saya banyak mendapat kritikan dari Drs. Jarkasi terkait puisi gelap, berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan para pemrasaran.

Beberapa kali kesempatan saya dipertemukan dengan (alm) Jamal, terkait projek antologi puisi dalam rangkaian hari jadi Kota Banjarbaru tahun 2006. Kala itu (alm) Eza Thabry Husano, (alm) Yuniar M. Ary, (alm) Hamami Adaby mendaulat kami berdua menjadi editor buku Melayat Langit, antologi puisi komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru.

Proses kurasi kami lakukan via email dan diskusi maya jelang akhir tahun 2005. Sejak saat itu, saya dan Jamal cukup intensif berhubungan lewat maya. Hingga tahun 2007, ketika kami sama-sama diberangkatkan oleh Badan Bahasa ke Samarinta, transit pesawat di Balikpapan. Kami tak menduga bahwa akan bareng diberangkatkan dalam hajatan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional tersebut. Kala itu, Jamal mengisi Seminar Internasional Pengajaran Sastra Indonesia/ Melayu di Sekolah berpusat di Hotel Mesra Indah Samarinda, Kalimantan Timur.

Di Kalimantan Selatan sendiri, hingga hari ini baru kami berdua yang pernah didelegasikan Indonesia mengikuti Program Penulisan Majelis Sastra se-Asia Tenggara. (alm) Jamal di bidang esai tahun 1999, sedangkan saya di bidang puisi tahun 2007.

Karya-karyanya cemerlang, banyak memenangi berbagai lomba dan sayembara penulisan, baik di tingkat lokal maupun nasional, antara lain; Juara II Sayembara Penulisan Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1992), Juara 1 Sayembara Penulisan Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1993), Juara III Sayembara Penulisan Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1994), Juara II Lomba Cipta Puisi Batu Beramal se-Indonesia versi Studio Seni Sastra Kota Batu, Malang (1995), Juara Harapan II Sayembara Penulisan Fiksi Anak Tingkat Nasional (1996), Juara I Sayembara Penulisan Fiksi Anak Tingkat Nasional (1997), Juara I Sayembara Penulisan Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1998), Juara I Lomba Menulis MOdul Lingkungan Hidup se-Kalsel  (2000), Juara I lomba Menulis Cerpen se-Kalsel (2007), dan Juara I Penulisan Esai tentang Perkembangan Publikasi Sastra di Kalimantan Selatan 2000-2008 se-Kalsel (2008).

Selain mengikuti kegiatan di Banua, Jamal kerap diundang ke kenduri sastra bergengsi tanah air.

Sejumlah kegiatan di luar Kalsel mengundang Jamal sebagai wakil (delegasi) banua, seperti; Mimbar Penyair Abad 21 (Jakarta, 1996), Program Penulisan Majelis Sastera Asia Tenggara; Esai (Bogor, 1999), Ubud Writer’s and Reader’s Festival (Ubud-Bali, 2004), Cakrawala Sastra Indonesia (Jakarta, 2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (Pekanbaru, 2005), Festival Kesenian Yogyakarta  (Yogyakarta, 2007), Temu Sastrawan Indonesia III (Tanjungpinang-Kepri, 2010), Dialog Borneo-Kalimantan XI (Samarinda, 2011), Temu Sastrawan Nusantara XVII (Pekanbaru, 2013), dan Temu Alumni Mastera (Bogor, 2022).

Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Portugal. Sang intelegensia Banjar seperti yang saya sebut di atas tak lain mengacu pada kreativitas Jamal dalam mengolah penciptaan karya di luar kemafhuman penulis jamak di Kalimantan Selatan.

Ketika Jamal menulis cerita drama bersambung Lambu Mangkurat  yang selama ini lekat dalam pengetahuan masyarakat umum sebagai Patih Lambung Mangkurat dalam balutan kisah yang ia beri judul Asa Takulum Bara. Jamal mengetengahkan informasi yang tak lazim dengan istilah Lambu bukan Lambung. Sebab Jamal menemukan fakta di masyarakat tentang penyebutan Lambu bukan Lambung seperti yang diketahui orang hilir selama ini.

Eksplorasi Jamal dalam sastra kontekstual Banjar merambah pada ranah kreatif, penciptaan kisah berkonten Banjar lengkap dengan adat istiadat yang penuh mitos didukung bahasa penganjurnya yaitu bahasa Banjar. Olehnya Yayasan Rancage memberikan penghargaan atas dedikasinya terhadap bahasa Banjar. Hingga bahasa Banjar memiliki tempat tersendiri dalam pengejawantahan teks-teks bermuatan lokal seperti buku; Pambatangan, Parang Maya, dan Naga Runting. 

Jamal T. Suryanata dan saya di Aula Tuntung Pandang-ASKS TALA, Oktober 2022

Kami acap membincangkan karya-karya puisi Indonesia, walau saya lebih terpukau dengan trend karya-karya di Afrika. Intensitas diskusi lebih banyak dilakukan lewat chatting di tengah malam, terlebih tahun 2007-2010 ketika puisi-puisi saya dimuat sejumlah media nasional secara bergiliran.

Suatu hari, ketika kumpulan puisi saya Menuba Laut dibicarakan dan dikupas oleh beberapa pengamat sastra di media online dan cetak, Jamal justru memberi pandangan lain yang ia sebut sebagai calon epigon baru. Menurutnya, kata-kata arkais yang saya gunakan nampak sophisticated dan kurang relevan dengan diksi kalimat sehingga pemaknaan yang tercipta terkesan rompang.

Tentu saya tak menggubris, malah saya kirimkan email balik daftar glosarium dalam pemaknaan logat kecil bahasa Indonesia, bukan pemaknaan dalam teasaurus bahasa Indonesia yang lazim dimafhumi orang-orang kebanyakan.

Sederet kisah dalam ruang temu di sejumlah peristiwa, rasanya melabeli sebagai sosok peramah cum awet muda kepada mendiang Jamal T. Suryanata tidaklah berlebihan. Jamal telah meninggalkan kita semua pada 4 Februari 2023 di RSUD H. Boejasin Pelaihari, Tanah Laut pukul 06.00 waktu setempat.

Jamal wafat saat menjabat Kabid Kesbangpol (sejak Januari 2023), sebelumnya menjabat Sekretaris Dinas Sosial Pemkab Tanah Laut. Penulis lebih dari 20 buku ini, meninggalkan seorang isteri bernama Fahriani dan 3 orang anak; Nisa Khairina, Nizhar Helmi Tasaufi, dan Nina Ulfatin Khaira.

Ada satu puisi yang saya kutip dari buku kumpulan puisinya Sajak Sepanjang Trotoar (2015) hal.53-56 sebagai lambang insan khauf yang sadar akan kehidupan hakiki, tentang perjalanan manusia yang tak lebih hanyalah tanah. Semoga almarhum Jamal T. Suryanata mendapat rahmat dan ampunan dari sang khalik. Amin. Amin. Allahumma Amin.

Sajak Sepanjang Trotoar
: Jamal T. Suryanata 

/1/
aku diri bagi waktu
bersenyawa membentuk ribuan bayang yang berlari

cari ke kediaman batu-batu dan pasir
cerca alam menderas ke arahku, nyanyi ragaku
cinta atas keadaan yang begini seribu kali, o
coba jamah aku dalam waktu dalam hari-hari telanjang
cukupkanlah, habiskanlah jasadku di atas trotoar ini

dari kesunyian yang merindu hutan syair
dendam kubacakan di sebuah pentas jalang
di mana dekor-dekornya tak lagi cuma mayat-mayat
dosa alam menangis perih dalam semilir doa
dunia telah jadi bagian dari keterpencilan: penyair!

endapan sajak membaur lugu di kehitaman aspal
enyah rasa diri dalam aku dalam waktu dalam lari
entah apa lagi yang kubaca depan tuhan
entah apa pula yang kutulis di keakuan
entahlah, sedang depanku kematian-kematian

fakir telah beku dalam panorama belasungkawa
filsafat berkubur sambil menjilati dosa-dosa agama
fitnah kian tebal memoles lipstik atas segala-gala
fosil kemanusiaan dan hukum menghukum manusia
fana o, dan ketiadaan menyungkam atas perjalanan

genggam aku dalam waktu yang liar
hingga jamalku remuk tercambuk cahaya syairmu

/2/
ini waktu
jamal berlari berkali-kali dalamku

kepak nadiku tinggal sejengkal di jalan kota
kutawarkan dalam berbagai persekutuan bayang
kertas lusuh menuliskan jati diri
kurun dalam langkah mengukur kau yang terdinding
kematian kematian kematian, masih senada

langit kita berkeliling menjajakan rahasia
larutkan getah kekerdilan yang mengakar
liukkan ini waktu perpanjangan: tanah
lindap berulang-ulang selimuti matahari
luka o, sendiri di ujung jasad sunyi

Facebook Comments