PENGAKUAN CINTA

Masa lalu berpawai sepanjang jalan
dari titian pertemuan ke bentangan kenangan,
kerlip rindu meriap di rongga-rongga waktu
lemparkan serpihan pagi dalam iringan
nyanyian cinta yang rawan.

Masa lalu berpawai di sepanjang pikiran
menari dan berdendang dengan irama sumbang
menimang semesta, memeluk kesetiaan
membelai keabadian.
Tapi, dalam lingkaran tarian, juga nyanyian
kehampaan cintamu cuma kuraba.

Seusai pawai baju-baju kuyu di lemari pilu
kalung dan liontin menggantung sendu
seperti nasib dan takdir, tak bisa kutimang.

Jarum dan benang pelangi kurentangkan
di balik pintu, di ambang cakrawala
begitu pun sisir, kemarikan!
biar kurapikan ini hari dalam rambut perjalanan
yang memutih barangkali kan abadi.

Oh, kehampaan yang agung
lebih dekatlah dengan kerlip lilin pandangku
dari liang gelap kupujakan hidup
agar bernyanyi dan menari dalam pawai waktu.


PENGAKUAN RINDU

Dengan melafalkan namamu dalam kerling
padangan kuterbangkan surat penantian
jauh ke awan sampai habis hayal di angan
sampai terkikis bulu-bulu cintaku
dari liang perjumpaan, dari derai pelepasan
surat-surat dari derai batin
tak sanggup kulafalkan.

Lalu bagaimana aku mesti berkabar
sedang cuaca tak bersetia dalam ciuman
terkadang kemarau di hatiku dideru pilu
dan pancaroba di mataku setia bergantung
seperti kedipan dan alis tak enggan lindungi
perih penantian.

Kutahu kau membuka pintu di sunyi-sunyi penantian
sampai kau abai, dan panggilan berkecai;

Mama, dekaplah parau kerinduanku,
bawalah dalam nafas cintamu.

Papa, sesaplah risau kalbuku
papahlah sintal sialku
ke dalam sepi risaumu
sampai pagi tak gugup kirimkan matahari
tembusi tirai, juga jendela bisu.


IMPIAN

Kuimpikan hari-hari bercahaya
dalam pengap gelap kutukan
pintumu kuketuk hanya
di hari-hari nyeri

Kulagukan segala kesenduan
dalam sumbang nada

Kumadahkan ayatmu suci
dalam rindu, dalam nadi
cintaku bara di tungku
pisau tak berulu.

Facebook Comments