WANGSIT LANGIT

apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?

seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu

bisakah warna itu membuatmu menggeremangkan larik-larik puisi octavio paz
serupa kau tembangkan suluk-suluk keramat yang disingitkan waktu?

mungkin dalam heningmu, warna-warna berubah hanya jadi kelabu
seperti bayang-bayang remang masa lampau yang melambai pada sejarah

langit tetap menderu dengan isyarat-isyarat warna

engkau pun bersila serupa samadi
namun bukan wangsit yang kau dengar
: hanya gumam-gumam nglindur yang nyinyir
dari mulut para perempuan yang hanya sibuk berpupur.

2020-2021


KERETA SENJA (1)

*) mengenang Mas Iman Budi Santosa

waktu beringsut menghilang menjelma kekal
senja menganga menelan segala jarak yang berubah pekat
panjang menjulur-julur di rel-rel dingin mengejar kilometer-kilometer lelah

Mas, perjalanan ini apakah sudah genap?” gumamku bertanya.
(kau tak menjawab sepatah huruf pun hanya senyummu seolah menunjuk arah yang jauh)

kereta terus saja melaju tinggalkan jarak
melintasi stasiun-stasiun yang dihisap candikala
entah akan singgah di mana, entah dilintasan mana.
entah ini perjalanan, entah kepulangan
hanya lambaian yang pamit tanpa kata-kata.

Ngawi, 2021


ANGKRINGAN (1)

ini ruang kami, tempat pertemuan kami, altar berdoa kami: mendoan, tahu isi, tempe bacem, jadah bakar, ceker, debu, peluh dan riwayat-riwayat lelah yang pucat

pilihan kami hanyalah segelas jahe pedas atau secangkir kopi pahit
jahe panas disruput dengan khusuk seperti menyujudi lakon hidup yang pedas
kopi pahit dihirup seperti menghikmati hidup yang tak kunjung manis

sekejap riwayat-riwayat pun bersliweran dan berceloteh
bising melebihi hiruk pikuk dangdut koplo
menghentak-hentak benak kami yang payah disumpal kutuk serapah bernama: uang.

sangit tempe dibakar, harum jadah dipanggang seperti nasib dan takdir
yang bolak-balik dari payah ke lelah, lelah ke payah
: persis bilangan-bilangan keramat yang selalu gagal ditebak

ini ruang perjumpaan kami, tempat saling menuding dan memaki nasib
yang terlanjur dirajahkan pada telapak tangan kiri
lantas terpingkal-pingkal menunjuk-nunjuk malaikat bugil membagi-bagikan
kartu takdir yang dinamai harapan dan omong kosong

angkringan. mungkin di simpang jalan atau ujung terowongan menuju ceruk busuk
mesti disinggahi agar bisa melacak aroma wangi yang melupakan kami sejak disabda
jadi manusia!

2021

Facebook Comments