DI era tahun 1968, siaran radio begitu dinikmati masyarakat Banjar. Selain sebagai corong kebudayaan, juga sebagai alat perjuangan. Pada masa itu, stasiun radio swasta lebih banyak dimiliki oleh warga etnis Tionghoa, termasuk penyiar hingga teknisinya.

Hingga kini, meski masa keemasannya telah berlalu, radio masih tetap ada dengan para pendengarnya yang masih setia. Menelusuri peran radio di Banjarmasin yang tak terlepas dari para pengusaha etnis Tionghoa, Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin bersama pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar diskusi di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Kamis (21/4/2022).

Johnson Marzuki, warga etnis Tionghoa yang juga pegiat media massa menjelaskan, dulu radio menjadi satu-satunya alat hiburan yang paling digemari, selain menonton film di bioskop rakyat.

Keunggulan radio karena bisa dinikmati secara gratis, dan bisa dibawa ke mana-mana.

Teknologi siarannya, kata Johnson, memiliki gelombang pendek sekali atau disebut SW (Short Wave). “Kalau radio saat itu banyak, yang berkiprah orang-orang Tionghoa seperti Om Yati, Om Yeren, Om Yetijan, dan Om Soleh yang masih eksis sampai sekarang,” bebernya di hadapan para peserta aktivis dan pegiat budaya.

Dulu, kata Johnson mengenang saat masih di Radio Dhirgantara Permai, Radio Nusantara, Radio Chandra, Radio Lahpusi, adalah orang-orang Tionghoa sendiri yang mengelola dan mendirikan.

“Saat zaman Orde Baru cukup sulit menyiarkan nama-nama asing, terlebih lagu yang diputar.  Apapun yang berhubungan dengan budaya Cina, itu sensitif. Pokoknya saat Orba, menteri penerangan RI melarang memutar lagu-lagu Mandarin. Tidak ada yang berani. Berbeda dengan zaman sekarang,” ujarnya.

Facebook Comments