Misalnya, meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Alih-alih menghiburnya, saya memilih untuk menjauh, tidak memperkuat rasa senang perempuan disaat dia sedang kesal, jengkel, atau marah. Yang dalam hatinya, dia ingin ditanya, “Ada apa?” Yang basicly para pria pun tahu jawabannya, “Aku tidak apa-apa!”

Hal yang paling utama yang dilakukan seorang pria ketika wanita marah (entah itu pasangan atau orang lain) adalah bahu untuk bersandar. Konteks ini tentu berbeda dalam setiap situasi. Bahu untuk bersandar bisa jadi adalah metafora sikap sebagai pendengar yang baik, pemaham yang bijaksana, atau sekadar ‘bak sampah’, dalam tanda kutip, tempat untuk menuangkan segala kekesalan atau unek-unek di hati.

Gak melulu soal pundak yang benar-benar jadi sandarannya saat meneteskan air mata karena marah, atau sebaliknya, terharu. Tapi lebih kepada wanita yang perlu didengarkan, bahkan di posisi yang paling nyaman, dipeluk dalam keadaan saling paham.

Faktanya di lapangan adalah, wanita cenderung salah paham terhadap perlakuan pria, terutama untuk mereka yang sangat jarang bertemu dengan multikarakter pria. Tahu, kan bahwa sebenarnya pria cenderung selalu berbuat baik kepada wanita siapa pun mereka?

Pada bagian ini, sebagian wanita bisa saja baper’an. Ada kalimat-kalimat dalam kepala si cewek “Apakah dia menyukaiku!” Padahal, gak gitu konsepnya, Malih! Inilah pentingnya memahami sikap antar lawan jenis. Sebaliknya, perempuan hanya akan berbuat baik kepada laki-laki yang sebenarnya dia sayang dalam kooridor “Calon ayahnya anak-anak”, atau memang sudah menjadi ayahnya anak-anak, walau tak lagi merajut hubungan sebagai suami istri. Ini misal.

But, semuanya bisa saja berubah-ubah seiring waktu berjalan!

Mari merubah sudut pandang. Banyak yang bilang memahami perempuan sama dengan memahami literasi yang jauh dari planet ini. Tidak ada buku-buku yang benar-benar menjelaskan seluk-beluk perempuan secara mendetail dan keseluruhan. Ada. Tapi sedikit saja. Bahkan apa yang dituliskan tidak selalu efektif untuk diterapkan di lapangan, dalam realitas sebenar-benarnya. Teori tetaplah teori. Dan menjelaskan perasaan emosi, hanya bisa dirasa oleh orang yang mengalami. This it’s true. Mungkin kamu pernah merasakan atau mempraktekkannya.

Jika kita menarik garis waktu perjalanan perkembangan kejiwaan ketika perempuan mulai ‘berdarah’ maka ada runutan yang bisa dialami tak peduli berapa pun kadar umurya. Yah, para filsuf bilang, umur hanyalah sekadar angka.

PANDAI MENUTUPI RASA SEDIH

Di dalam senyum yang indah, tawa yang terbahak, ada hati yang sedang patah. Banyak faktor yang menyebabkan itu semua. Bisa jadi karena keluarga, pasangan, atau masalah pekerjaan. Banyak hal pokoknya.

Pernah mendengar istilah pura-pura bahagia? Perempuan paling ahli soal ini. Contoh paling simpel adalah, wanita selalu mendramatisir masalah saat putus cinta, misalnya. Atau persoalan-persoalan yang membuat hubungan keduanya retak, dan masih banyak lagi. Dan, paling mudah untuk beralih, atau move-on. Mereka akan menangis tersedur berhari-hari, bangkit dari keterpurukan berbulan-bulan. Dan kehidupan berjalan sebagaimana biasanya dari tahun ke tahun. Dan, tentu saja akan berbanding terbalik dari sudut hati dari si laku-laki. Cukup bisa dibayangkan.

PANDAI MENYINDIR PERSOALAN YANG DIALAMINYA DENGAN YANG DIALAMI ORANG LAIN

Facebook Comments