SUATU kali ada seorang bidah yang dibakar hidup-hidup karena berani mengaku mendengar suara Tuhan. Ahli bidah itu mula-mula diseret beramai-ramai dari dalam rumahnya dan digiring ke sebuah tanah lapang yang permukaannya lebih tinggi daripada permukaan di sekitarnya. Di sana sudah terpancang sebuah salib. Ahli bidah disalib dan api dinyalakan dari tumpukan kayu di bawahnya. Dia terbakar, meraung-raung minta hidup, dan kemudian luluh menjadi abu.

Setelah pembakaran itu orang-orang segera menjauh dari sana dan hujan turun. Bagi mereka, hujan yang turun dengan deras seolah menjadi sebuah berkah dari Tuhan karena telah menghukum ahli bidah. Mereka bersuka-cita dan menyembah Tuhan beramai-ramai. Tapi, seorang gelandangan—dulunya dia adalah orang terpandang—yang mengidap sampar—karena diguna-guna oleh seorang dukun yang dimintai tolong oleh saingan si gelandangan—menemukan sepotong telinga kanan yang masih utuh di antara abu yang terbawa air hujan menuju ke tempat yang lebih rendah. Dia menyimpannya dan membawanya ke tempat teduh.

Entah pikiran dari mana, dia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga itu, “Kuharap si … mati tertusuk tombak!” Dua kali dua puluh empat jam kemudian orang yang dimaksud oleh si gelandangan benar-benar mati tertusuk tombak karena bercekcok dengan petugas istana yang memungut upeti. Mendengar kabar itu, si gelandangan masuk ke desa dan berteriak bahwa dia menemukan telinga yang bisa mengabulkan permintaan untuk balas dendam.

Tapi, nasib naas menimpanya, dia kemudian dilempari batu oleh masyarakat di sana karena mengganggu ketenangan, terutama karena dia mengidap sampar dan telah diusir dari desa itu. Tidak ada yang mengubur mayatnya sampai akhirnya burung-burung gagak turun untuk mematuki daging sampai otaknya. Dalam seminggu, mayat itu tinggal tulang dan anak-anak bermain dengan batok kepalanya bak bermain bola sepak, meskipun kemudian dilarang oleh para orang tua mereka karena khawatir sampar itu masih tersisa di batok kepala itu dan menulari mereka.

Telinga itu raib dan beberapa tahun kemudian muncul lagi dengan perlindungan ketat para kesatria dari desa itu. Siapa pun boleh masuk ke sebuah rumah kecil dengan membayar dua keping perak dan menuliskan keinginannya yang kemudian akan dibisikkan oleh si orang tua berjanggut putih yang mengklaim bahwa telinga kanan ajaib itu adalah miliknya, sebuah wahyu dari Tuhan untuk membalas perbuatan lalim manusia di antara sesamanya.

Desa itu menjadi ramai. Orang-orang dari penjuru kerajaan datang untuk membuktikan secara langsung keajaiban itu. Terlebih lagi, dua keping perak bukanlah harga yang terlalu besar. Kalaupun keajaiban sebagaimana yang dibicarakan orang dari seluruh penjuru kerajaan itu tidak terwujud, mereka tidak akan merasa kesal—sekali lagi, dua keping perak bukanlah harga yang terlalu besar, penghasilan mereka dalam sehari adalah lima puluh keping perak.

Karena tempat itu didatangi oleh banyak pelancong dari dalam negeri, orang-orang di desa pun membuka penginapan-penginapan yang akan menambah pemasukan mereka. Perlahan, mereka mulai meninggalkan ladang dan sawah untuk membuka restoran, bar, dan penginapan.

Jika ada seseorang yang nekat pergi ke ladang atau sawah, mereka akan mulai ditertawakan. “Kalau masih pergi ke sawah, kau tidak akan kunjung menjadi kaya!” Karena takut diejek dan tidak ingin dianggap tidak berpikiran maju, tak seorang pun penduduk desa itu menjadi petani lagi. Ladang dan sawah diuruk untuk kemudian dijadikan lahan mendirikan bangunan baru atau dijual kepada pemilik modal dari dalam atau luar desa untuk membangun bar atau penginapan atau restoran. Setiap hari di tempat itu serupa keramaian pasar malam.

Setiap hari adalah festival. Hal semacam itu terus berlanjut hingga generasi ke generasi sampai keahlian bertani dan berladang benar-benar punah dari penduduk setempat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mendatangkan barang-barang, yang sebenarnya dapat mereka hasilkan sendiri, dari desa lain. “Kita punya uang. Tinggal beli. Tidak perlu repot-repot menanam sendiri.”

Si orang tua berjanggut putih, secara mengejutkan, memiliki umur yang lebih panjang dari orang lain (usianya sekarang 231 tahun). Orang-orang kemudian menganggapnya sebagai seorang nabi atau utusan Tuhan. Telinga Kanan Tuhan, itulah sebutan untuknya. Dia tidak pernah keluar dari rumah kecil yang dipergunakannya untuk menyimpan telinga kanan itu.

Di sekitarnya, kesatria-kesatria tangguh melindunginya atas perintah Raja—beliau juga mendapat keuntungan dari telinga itu untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan tetangga dan menjadikannya koloni untuk mengeruk bahan tambang yang tidak dimilikinya di kerajaannya sendiri.

Sang Raja kemudian mendeklarasikan bahwa agama resmi kerajaan adalah agama Telinga Kanan dan orang tua berjanggut putih yang disebut sebagai Telinga Kanan Tuhan menjadi nabinya, “penyebar” agama itu.

Bahkan, ketika Sang Raja mangkat dan takhta dilanjutkan oleh keturunannya yang paling cakap, agama Telinga Kanan terus bertahan dan semakin mulia. “Agama Telinga Kanan,” begitulah pidato pengukuhan Raja yang baru, “telah menjadi kekuatan kerajaan dan menggetarkan musuh-musuh kerajaan. Mereka lebih senang menjadi tuli daripada harus mendengar nama agama resmi kita!” Seperti biasa yang terjadi ketika orang penting berpidato, sambutan tepuk tangan yang menyerupai gemuruh akan terdengar sampai ratusan mil.

Sudah seratus tahun sejak Telinga Kanan itu menjadi primadona dan sudah banyak pula yang menjadi korban karena permintaan yang dibisikkan oleh orang tua berjanggut putih. Pada saat itu, Sang Raja sedang sakit parah dan dia hanya bisa terbaring di ranjangnya sementara pemerintahan untuk sementara dipegang oleh Perdana Menteri sambil menunggu penobatan putra mahkota menjadi raja baru—ketika raja yang lama masih hidup, tidak boleh ada penobatan raja yang baru; jika itu dilakukan, maka pelakunya akan dianggap sebagai pengkhianat dan akan dibakar di alun-alun. Raja menyuruh seorang utusan untuk diam-diam pergi ke desa itu dan menuliskan permohonan kepada sang Telinga Kanan Tuhan.

“Buatlah permohonan agar para penggawa istana yang tidak setia kepadaku ditusuk tombak.”

“Saya mengerti.”

“Ulangi!”

Facebook Comments