Jadi, Jumat kemarin itu, (22/2) saya melakukan semacam eksperimen bukan sosial. Semacam tutorial bagaimana menjadi gembel yang baik dan benar dalam satu hari. IMHO,  Ya, dampaknya buat pribadi. Memperkuat tawakal dan menjadi bahan tulisan, niatnya.

Singkatnya, saya melakukan napak tilas yang biasa saya lewati pakai mobil dari rumah (Jl Danau Seran, Banjarbaru) menuju Masjid Agung Al Karomah (Martapura) sebagi point puncak. Tapi kali ini, yang namanya napak tilas, ya jalan kaki lah. Dan menanggalkan semua fasilitas yang biasa saya gunakan. Dan berbicara dengan diri sendiri. Sudah cukup gila?

No Phone, No Internet (of course), No Jam tangan, No Uang, No Dompet No Identitas, No Ransel, dan segala kartu-kartu lainnya. Saya cuma membawa kunci rumah di saku. Semua benda yang berkaitan dengan hal keduniaan saya tanggalkan di rumah. Artinya sama dengan saya tidak bisa memotret beberapa tempat singgah sebagai bukti. Itu sudah saya pikirkan dari awal, sih. Mau ngetes seberapa lama saya bisa bertahan tanpa ketergantungan dengan benda-benda itu. Gantinya, tiap langkah diisi salawat. Untuk yang satu ini gak perlu cemas riya dan pahala hilang, wong salawat ikhlas gak ikhlas pasti diterima Tuhan, kok.

Berpakaian sekadar menutup aurat cukup sebagai syarah sah salat. Celana panjang, kaos oblong dengan sedikit robek di ketiak, pakai sandal karet, awalnya mikir mau pakai sepatu, tapi malah terlihat mau enak-enak dan bergaya, sok. Kadang mau yakinin kalau “lo itu, Nda! gak terkenal sama sekali, gak berguna, gak berharga, hina sehina-hinanya. Biar kelak kalau ada rejeki sesedikit apa pun bisa bersyukur, gak sok, gitu!” konyol, sih. Orang lain kadang gak perlu ngelakuin kayak gini juga, sih, buat ngebenerin dirinya.

Di saku sebelah ada sisa rokok tadi malam dengan pemantik. Itu artinya kalau habis ya sudahlah. Setidaknya saya punya korek api kalau-kalau ada puntung rokok tercecer seumpama, atau ada orang yang butuh api. Hanya itu, jika saja ada petugas Satpol PP Razia Pekat terus meminta KTP, saya bakal ditangkap dan diintograsi. Asyik, ya. Tapi sayangnya itu gak terjadi.

Pada awalnya, ini seperti hal yang gila. Namun kadang, manusia boleh saja melakukan segikit kegilaan untuk menjaga kewarasan. Sebelum perjalanan tidak lupa sarapan. Biar tetap realistis, akan banyak energi yang terpakai dibandingkan hari biasanya. Dan tak ada uang untuk beli ketika sudah di luar. Berangkat!

Rutenya, saya menyusuri Jl Trikora, dan pulangnya, Jl A Yani. Saya menjadikan Masjid Agung Al-Munawwarah Banjarbaru sebagai check point pertama. Waktu berangkat itu sekitar pukul 08.30 sesuai dengan jam dinding di rumah, dan tiba di check point pertama pukul 10.15 sesuai dengan jam dinding masjid. Sepanjang jalan, ya ada beberapa kali duduk sesaat, beberapa orang yang mampir menawarkan tumpangan. Tapi saya tolak karena masih terlalu dini, jika saja dia tawarkan saat perjalanan pulang ketika sudah terkuras semua tenaga, pasti saya acc, dong, bos!

Sepanjang perjalanan, tentu banyak sekali pemikiran-pemikiran yang terlahirkan. Keindahan-keindahan yang selama ini terlewatkan, bunga di pinggir jalan bermekaran yang warnanya cantik nan menawan. Dan ini masih permulaan, saya belum tahu apa yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Dalam batin saya mensugesti untuk terus jalan hingga ke tujuan. Di kantong, ada rokok tinggal 3 batang. Saya bakar yang pertama, sambil jalan, haus sudah menimpa. Ini adalah masa-masa tersulit seperti dijatuhkan dua pilihan, bertahan tanpa meminta tolong. Atau menunggu saja.

Tentu metode yang biasa dipakai para pendaki gunung tidak bisa diterapkan. Di tengah hutan, para pendaki membawa bekal dalam carrier mereka agar bisa dikonsumsi di pertengahan jalan. Di kota, semua serba berkelimpahan, tinggal lagi bagaimana cara mendapatkannya tanpa menyalahi syariat. Tanpa uang tentu saja.

Interior di bawah kubah Masjid Al Munawwarah Banjarbaru yang bertuliskan Ayat Kursi dan Asma Al Husna

Saya tak punya pilihan selain memaksa, menggeber nafsu untuk terus kelelahan hingga sampai ke tempat singgah pertama. Betapa bersyukurnya ketika langkah saya tiba di halaman Masjid Al Munawwarah, betapa bersyukurnya mata ini telah memandang kubahnya. Biasanya, sewaktu bermobil, kadang merasa masjid itu seperti biasa-biasa saja. Kali ini begitu luar biasa. Saya mendekatkan wajah ke air. Betapa menyegarkan. Tanpa ragu, meminumnya dengan tiga kali tegukkan. Sunah yang belakangan jarang sekali kita lakukan. Berwudhu, dan salat tahiyatul masjid.

Tak lebih dari 15 menit, saya sempatkan istirahat di dalam masjid, dengan kipas angin, berbaring sembari mengagumi keelokan interior berhias ayat kursi dan Asma Al Husna. Jika tidak keliru, dekorasi ini baru diselesaikan di awal Januari tadi.

Sedari awal saya menargetkan salat Jumat di Masjid Agung Al Karomah Martapura. Namun, melihat waktu sekitar 90 menit lagi menuju tengah hari, pasti tak terkejar. Singkatnya, perjalanan saya lanjutkan persis 10.30 meninggalkan Masjid AL Munawwarah. Saya tak boleh terlena terlalu lama di tempat peristirahatan. Dan lagi, sempatkan minum beberapa kali teguk air wudhu sebagai bekal, agar tidak dehidrasi.

Saya belum tentukan check point yang ketiga di mana. Tapi menziarahi Makam Guru Sekumpul termasuk dalam check list. Jika memang tidak terlalu kotor, saya masuk ke dalam. Seperti sekaligus minta ridho beliau karena saya akan menulis ulang manakib yang telah diijazahkan kepada saya untuk dipublis di situs ini menjelang haul yang tinggal beberapa hari lagi.

Masjid Al Ikhlas yang terletak di tengah perumahan Bumi Cahaya Bintang

Langkah kaki melewati Taman Trikora, sebuah komplek perumahan, dengan plang panah menuju ke dalam bertuliskan “Masjid Al Ikhlas.” Saya membelok meniatkan masjid di hadapan menjadi check point ketiga. Seperti biasa, meminum beberapa air wudhu, salat tahiyat masjid, dan berbaring. Masjid ini, belum selesai secara utuh, tapi dari pengumuman yang saya lihat, masih membutuhkan donasi dan dana yang tidak sedikit. Saya asumsikan untuk sebuah masjid yang berada di tengah komplek perumahan yang rumahnya mewah-mewah seperti ini, tentu mendapatkan uang dengan jumlah segitu tidak memerlukan waktu lama. Atau malah mereka sudah melakukan dan mentok seperti bangunan yang belum jadi seperti saat ini, kayak gak ada uang lagi. Sisanya perlu dana dari luar. Ya kali aja, sempet-sempetnya saya mikirnya begitu saat istirahat, CMIIW.

Tak boleh terlena, saya melanjutkan langkah. Melewati perumahan, dan terasa sekali, kaki seperti memanas, tangan pun berat. Mungki semua darah tertumpuh ke bawah anggota tubuh. Saya melepas sandal dan melihat kaki sudah melepuh di bagian punggung kelingking dan jempol kaki. Belum pecah dan berdarah, sih. Saya kira ini suatu kesalahan, harusnya memakai sandal jepit saja, bukan sandal satu karet satu penutup seperti ini. Ada logo Nike di sampingnya, bisa dibayangkan gak, sih. (Mungkin kalau sempat saya foto sandalnya).

Sambil jalan saya sambil mikir, cara agar meminimalisir rasa sakit biar tetap kuat berjalan. Di samping sebelah kiri saya adalah Indomaret, Jl Puyau. Melihat botol-botol yang berada di mejanya, saya haus lagi. Pengen yang manis, begitu. Saya beranikan diri masuk ke dalam, keluar di samping, duduk di mejanya. Berharap botol yang ditinggalkan pemiliknya itu masih ada. Bisa bayangkan berapa pasang mata yang menatap saya, rambut gondrong kotor has gembel, berkeringat, sandal lusuh berdebu, dan celana kain berdebu, baju kaos lusuh dan sobek dikit, masuk indomaret, duduk di meja, menggoyangkan botol, dan ternyata kosong. Saya tinggalkan lagi. Pelajaran pertama: Gak papa meninggalkan botol minummu kosong waktu di ritel, siapa tahu ada orang yang benar-benar haus tapi gak mampu beli.

Langkah berlanjut menyusuri Jl Mistarcokrokusumo menuju Tugu Bundaran Simpang 4 Banjarbaru. Matahari terik, langkah mulai ciut. Ada musalla, saya mampir untuk sekadar minum dan mencuci muka agar tak roboh. Langkah berlanjut, melihat orang-orang berlalu-lalang pulang kerja dan pulang kuliah. Kampung ULM di seblah kiri, orang-orang berseliweran dengan transportasi masing-masing.

Rambut panjang ini gerah sekali, saya ingin mengikatnya. Tapi gak bawa karet gelang kecil yang biasa dipakaikan ke Yasa. Saya mencari-cari karet gelang kalau-kalau di pertengahan jalan ada yang membuangnya. Benar saja, saya mendapatkan beberapa. Bisa bayangkan gak sih, orang-orang itu seperti memandang lama saat saya menilik-nilik lantai seperti mencari sesuatu yang hilang. Apalagi ketika dekat dengan warung atau kios pinggir jalan, biasanya kita berprasangka: “Ini orang mau maling kayaknya!” padahal saya cuma nyari karet gelang, kenapa, sih.

Saya jadikan pasangkan di tangan kanan layaknya gelang, dan satu lagi menjadi mengkuncir rambut. Sembari saya bayangkan, pantas kadang melihat orang gila/atau yang sedikit gila banyak karet gelang di tangannya. Itu seperti basic insting manusia untuk mencari suatu benda yang bisa dipakai atau difungsikan terhadap dirinya. Konyol. Saya merasa penampilan gembel ini begitu sempurna, ceritanya.

Saya berhenti untuk sekadar menselonjorkan kaki di pos polisi simpang empat. Melepas sandal. Dan melihat kaki yang tadi melepuh sudah pecah dan nyeri sekali. Saya pikir harus mendapatkan sesuatu untuk menggantinya.

Saya menyebrang menaiki lingkaran tugu simpang empat. Betapa terkejutnya saat melompat, ada suara yang menegur berteriak, “Woi”. Saya menoleh, ternyata itu adalah Pak Rasid Ridho, atau di kalangan kawan fotografer akrab menyapanya “Bang Acid”. Saya tersenyum saja sambil mengangkat tangan sambil berjalan. Beliau memakai Suzuki Swift Silver, eh kemana Kia Visto Kuningnya dulu? Mungkin sudah laku dan itu mobil barunya. Ya, setidaknya ada saksi hidup melihat saya nyebrang di tugu itu.

Sudah tengah hari, saya mengira sudah pukul 12.00. Tentu saja saya hanya mengira-ngira karena tidak bawa penunjuk waktu selain matahari. Sayup-sayup ayat demi ayat Quran terdengar di speaker Masjid. Di hadapan, ada Masjin Nurul Falah yang berseberangan dengan Q Mall. Sambil melangkah berpikir, bagaimana kalau saya meminjam sepasang sandal jepit di sana, gak ngambil kok, minjem aja. Ntar juga dibalikin.

Tapi ragu. Saya jadikan check point untuk istirahat dan salat di sana nantinya, atau di-skip saja. Belum diputuskan sebelum tiba di halamannya. Matahari terik, saya terus berjalan, mencium aroma masakan khas Banjar di warung-warung pinggir jalan. Sekadar bersyukur dengan indera penciuman masih normal.

 

Bersambung…[email protected]

Facebook Comments