Apakah syndrome ini berbahaya atau tidak? faktanya mereka begitu banyak berkeliaran di sekeliling kita. Pada mid Juni lalu, saya berdebat dengan salah seorang profesor perempuan yang masih muda. Saya bilang “rasa ketergantungan perempuan terhadap laki-laki” adalah takdir, kodrat, dan memang demikian seharusnya. Namun pendapat saya langsung dibanting dan dinyatakannya sebagai kesalahan. Dia bilang, itu adalah Cinderella Complex, dan Cinderella Complex adalah penyakit. Dia adalah virus dalam tanda kutip “kejiwaan” yang berdampak fatal dalam berkehidupan.

Tidak usah mengerutkan dahi sementara, anggap saja ini kajian psikologi perempuan bab keseratus dua puluh sembilan sembilan bla-bla-bla Whatever lah. Colette Dowling dalam jurnalnya telah banyak membeberkan tentang penyakit ini. Kita ambil sedikit-sedikit saja.

Hal-hal yang menyebabkan perempuan memimpikan hidup mewah dan bahagia tentu suatu kelumrahan. Namun di sisi lain, ada kecenderungan perempuan untuk tergantung secara psikis, yakni keinginan yang kuat untuk dirawat, dan dilindungi orang di luar dirinya, terutama laki-laki. Mari kita sepakati sebutan ‘pengidap’ kepada mereka yang begitu yakin suatu waktu aka nada something dari luar sana yang akan menolong. Persis seperti Cinderella yang mendambakan pangeran impian. Berkuda, dengan pedang yang mengilat, pakaian kerajaan, dan berlutut untuk memasangkan cincin di jari-jemarimu. What the hell!

Sebenarnya banyak sekali faktor mengapa seorang perempuan mengidap penyakit ini. Sebut saja pola asuh orang tua, lingkungan pergaulan, kematangan pribadi, dan konsep diri. Namun berdasarkan perspektif perkembangan gender, perempuan cenderung atau bahasa sederhananya “mudah” terpengaruh oleh budaya setempat yang justru mengasumsikan sebagai makhluk lemah, non mandiri.

Belakangan ramai mem dan postingan media sosial menyebutkan, perempuan, ketika tidak ada laki-laki di sampingnya, ia sanggup mengangkat galon sendirian, memasang regulator gas, menggeser lemari, bahkan memasang atap. Namun saat ada laki-laki entah itu suami atau seonggok daging yang kuat di sekitarnya, kekuatan mereka langsung ciut. This it real, guys!

Dalam catatan sebelumnya di sini mungkin kamu mendapati pendapat saya yang menyebutkan mengapa perempuan mudah sekali menyindir dirinya dengan apa yang dialami oleh orang lain. Hal demikian juga berdampak pada tontonan, sebagaimana Cinderella. Yah, kalau dianalogikan sinetron Indonesia Bawang Merah Bawah Putih lah. Semua perempuan seperti memunyai impian yang sama. Cantik, baik hati, dan berakhir dengan kisah yang bahagia.

Mengapa pola asuh sangat berpengaruh? Pertama, anak perempuan cenderung membaca, mendengarkan, dan menonton dongeng sejenis Cinderella, Barbie, Princess dan lainnya. Serelegius apa pun seorang perempuan dalam kooridor agama dididik, minimal mereka tahu dan akrab dengan cerita-cerita itu. Parahnya cerita demi cerita tersebut seperti tertanam di dalam otak dan memengaruhi pola pikir hingga mereka dewasa.

Cinderella Complex (CC) sebagai penyakit kejiwaan juga menimbulan ketakutan-ketakutan tersembunyi dalam relung hati atau lorong otak yang terdalam. Mereka takut akan hidup susah, dalam kemelaratan, dan merasa tak tahan hidup mandiri. Tidak ada pengarahan dalam dongeng apa dan bagaimana seharusnya berkehidupan nyata.

PENGERTIAN CC

Cinderella Complex berada di salah satu jaringan otak yang menyimpan alkimia individu sebagai jaringan sikap dan rasa takut akan tekanan. Wanita, perempuan dewasa, atau bahkan seorang gadis kecil sekalipun memunyai rasa takut. Dalam artian tidak berani memanfaatkan sepenuhnya kemampuan otak dan kreativitas. Bahkan CC menjadi masalah yang diidap hampir semua perempuan.

Facebook Comments