TAHUKAH Anda bahwa Nasruddin yang bijaksana suka memancing? Kurang lebih begitulah, seperti dikatakan Jamal Rahman dalam bukunya yang mengangkat cerita-cerita Mulla Nasruddin Hoja sebagai sufi yang bijaksana dengan kejenakaannya.

Niat Mulla memancing cukup murni, kata Rahman. Ia ingin menyelamatkan ikan-ikan dari kuburan penuh air itu, dengan memancingi mereka–ikan-ikan itu.

Di suatu malam yang dingin Nasruddin keluar rumah dengan membawa joran panjang. Kebetulan ia melewati sumur tua yang tak terlalu dalam. Ia terkejut ketika melihat bulan telah terjatuh  ke dalam sumur.

Bersemangat ingin menyelamatkan bulan di dalam sumur, Nasruddin menyiapkan joran dan melempar kail ke sumur. “Jangan khawatir, adik bulan,” kata Nasruddin. “Bantuan sudah datang!”

Kebetulan saja kail nyangkut pada sesuatu di dalam sumur. Nasruddin merasa telah mendapatkan bulan. Ia berusaha mengangkatnya, tapi benda itu cukup berat tampaknya. Dengan sekuat tenaga ia menyentak, dengan kedua tangannya. Walhasil bukannya terangkat, joran terlepas dari tangannya dan ia terjatuh. Dalam kondisi terlentang ia menghadap langit yang terang. Dan, bulan di atas sana sempurna betul cahayanya!

“Alhamdulillah! Untung saja aku lewat sumur ini. Apa yang akan terjadi pada bulan tanpa bantuanku.”

Di hari lain memancingnya, Nasruddin tengah duduk kongko-kongko di warung kopi, membual bersama teman-teman seklub ‘paunjunan’. Alat pancing disandarkan sebelum turun gelanggang.

Mereka tengah menggosipkan si Abdul, rekan ‘paunjunan’ yang suka cari muka dan kalau memancing bersama suka menculasi teman-temannya. Kebetulan Abdul lagi tak di sana.

Dengan bersemangat seorang rekan pemancing mengatakan bahwa Abdul itu orang yang sama sekali tak berguna. “Ia persis seperti kubis!” Kata teman ini dengan emosi.

“Sebentar, sebentar,” kata Nasruddin. “Itu adalah perbandingan yang tidak adil.”

“Kenapa?” Kata yang lain.

“Sebuah kubis paling tidak bisa direbus, dimasak, dan dimakan. Lalu Abdul, di mana gunanya??!”

Beberapa waktu kemudian, para anggota klub ‘paunjunan’ berkumpul lagi di warung yang sama. Orang yang dulu menyebut Abdul sebagai kubis membawa kabar bahwa (si) Kubis telah meninggal. Seseorang dengan sikap prihatin bertanya, “Apa penyebab kematiannya?”

Spontan saja Nasruddin menjawab, “Tidak ada yang tahu alasan keberadaannya di dunia ini, apalagi penyebab kematiannya!”@

Facebook Comments