Pada mulanya adalah mimpi. Lalu tekad (agak nekat) yang kuat untuk mewujudkannya. Ketika ada jalan dan peluang, maka jadilah. Selanjutnya adalah konsistensi dan disiplin.

Bermodal dari honor pentas musik digital dari Singapura, Novyandi Saputra mewujudkan mimpinya untuk berbisnis kedai kopi. Sadar saat ini kedai kopi begitu menjamur di beberapa kota di Kalimantan Selatan—yang menurutnya jumlahnya hampir mencapai 1000, yang itu berarti bisnis ini memiliki peluang yang bagus sekaligus juga persaingan yang ketat, Novy—begitu panggilan akrabnya, menawarkan konsep berbeda.

“Kami hadir dengan konsep lokal. Yakni menyajikan kopi bercita rasa lokal Banjar,” ujar Novy di acara “Solusi di Secangkir Kopi” (bincang pagi mencari peluang usaha bisnis kopi) yang digelar Lembaga Kajian Keislaman & Kemasyarakatan (LK3), Sabtu (6/3/2021).

Bertempat di Rumah Alam, Sungai Andai, Banjarmasin, kegiatan ini dihadiri para pelaku UMKM (Unit Mikro Kecil dan Menengah). Yang menarik, Oettara Koffie—nama  kedai milik Novy, dihadirkan langsung di tempat bersama dua baristanya, yakni Anom dan Ridha. Siapapun bisa menikmati beragam jenis seduhan kopi yang siap disajikan, termasuk kopi hitam Si Kacil Mulik yang dilengkapi dengan potongan kecil roti baras yang menjadi salah satu ciri khas dan pembeda Oettara Koffie, selain menu khas lainnya seperti Kopi Susu Kurma.

Novy bersama reka-rekannya seniman musik memang baru satu bulan menjalankan bisnis kopinya di kawasan Jalan Sultan Adam, tepat satu tempat dengan Kampung Buku, Banjarmasin. Bisnis kopi ini menurutnya juga untuk menyikapi situasi pandemi sejak 2020 yang juga berdampak pada minimnya undangan pentas musik.

“Saya ingin kawan-kawan saya bermusik tetap bisa bekerja. Dan kebetulan bayaran pentas digital terakhir kami di Singapura bisa menjadi modal awal untuk berbisnis kopi ini,” ceritanya.

Terlalu dini memang menilai bisnis kedai kopi Novy bakal sukses. Namun, setidaknya ia berupaya membangunnya dengan manajemen yang baik dan keseriusan. Hal itu dipaparkannya dengan persiapan yang serius sebelum memulai bisnisnya itu.

“Saya banyak melakukan konsultasi dan meminta masukan kepada Bang Qamal, pengusaha muda yang sukses membangun bisnis seperti kedai kopi ini di Banjarbaru,” cerita Novy. “Mulai dari menu hingga branding, semua saya konsultasi dan didiskusikan,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengaku banyak membaca buku orang-orang yang sukses di jalur ini.

“Ada satu nasihat baik yang saya dapat untuk mereka yang memiliki usaha. Yakni ‘Sedikit berbeda itu lebih baik daripada sedikit lebih baik’,” katanya.

Kini Novy berupaya untuk konsisten dan menerapkan disiplin dalam usahanya ini. Seperti buka tiap pagi mulai pukul 08.30 sampai 23.30. “Disiplin harus kita mulai dengan hal-hal kecil terlebih dulu, seperti menyalakan lampu kedai setiap pagi pukul 08.30,” ujarnya. “Saya sadar bisnis ini tidak sekejap sukses, saya berhitung mungkin memerlukan waktu hingga tiga tahun,” sebut Novy, yang berharap usahanya ini nanti akan memberikan manfaat yang lebih banyak.

 

 

 

Acara yang dimoderatori Noorhalis Majid ini juga menghadirkan narasumber Berry Nahdian Forqan, yang baru saja purna tugas sebagai Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah.

Berry mengingatkan pentingnya jaringan pertemanan dalam hal apa saja, terutama bisnis. “Jaringan pertemanan bisa membuat usaha kita semakin lancar dan sukses. Karenanya perlu memperluas jaringan untuk memperkenalkan diri kita atau produk kita,” ucapnya.

Mantan Direktur Eksekutif Nasional Walhi ini menceritakan, keberhasilannya hingga menjadi wakil bupati juga tidak terlepas dari jaringan pertemanannya. “Saya ini termasuk yang suka berkawan dengan banyak orang. Nah, dengan bakakawanan ini lah, saya dikenal dan alhamdulillah bisa mencapai salah satu mimpi saya yakni menjadi pemimpin daerah, walaupun baru sampai wakil,” kisahnya.

Ibu Yuanita dari Bengkel Menjahit/ Handicrafts mengaku senang bisa turut hadir. “Saya sendiri adalah penggemar kopi. Saya sudah mencoba banyak jenis kopi. Ampas kopi bisa dimanfaatkan untuk masker, juga pupuk,” ujarnya berbagi cerita, yang telah banyak melahirkan alumnus penjahit di Banjarmasin sejak tahun 2003.

Pada penutup kegiatan, dilakukan penyerahan bantuan kepada sejumlah perwakilan UMKM dan warga yang terdampak banjir. Bantuan di antaranya berupa mesin jahit, mixer, setrika, sembako, serta peralatan sekolah.

Noorhalis Majid mengatakan, kegiatan yang digelar LK3 di Rumah Alam miliknya ini akan rutin dilaksanakan setiap bulan. “Ini adalah upaya LK3 untuk memberikan pelatihan, edukasi, kepada para penggiat UMKM di Banjarmasin. Harapannya, mereka tetap bisa bertahan dan semakin berkembang di masa sulit pandemi,” ucap mantan Ketua Ombudsman RI Perwakilan Kalsel [email protected]

 

Facebook Comments