SATU kali Nasruddin bekerja pada seorang kaya di kampungnya untuk beberapa lama. Karena sudah tak lagi muda, ia agak lamban dan pelupa. Majikannya yang sudah lama menahan kesal satu hari mengajaknya bicara.

“Nasruddin, sebenarnya aku suka padamu. Kau jujur dan tak banyak mengeluh. Tapi caramu bekerja yang sering tidak sekaligus itu perlu kau perbaiki..”

“Yang tidak sekaligus bagaimana, Bos?”

“Kamu ingat kemarin kusuruh membeli dan menyiapkan bahan-bahan untuk keperluan mawlidan di rumahku? Kamu membeli telur sekian keranjang dan pulang, lalu membeli daging sekian kilo dan lalu pulang, kemudian pergi lagi membeli bahan-bahan bumbu. Seharian kerjamu hanya bolak-balik pasar, padahal jika kau membelinya sekaligus kau bisa mengerjakan yang lain sesudahnya.”

“O, iya, Bos. Ketika sampai di rumah saya lupa belum membeli barang lainnya… dan..,”

“Jangan kau ulangi lagi yang seperti itu!”

“Siap, Bos, lain kali tidak akan terulang.”

Tak berapa lama sesudah kejadian itu majikan Nasruddin sakit keras. Dari pembaringan ia memanggil Nasruddin dengan keras. Nasruddin yang sedang menyiapkan minuman hangat untuk majikannya segera menyudahi pekerjaannya dan menyambangi sang majikan dengan tergopoh-gopoh.

“Nasruddin, tampaknya minuman herbal yang kau siapkan beberapa hari ini tidak ada khasiatnya. Tolong kau panggilkan tabib di kampung sebelah untuk mengobatiku.”

“Siap, Bos!” Dan Nasruddin pun segera pergi menuruti keinginan sang majikan.

Lama sekali Nasruddin perginya. Majikannya yang sakit sudah sedari tadi mengoceh dan mengumpat kelambanan Nasruddin. Ketika didengarnya ada yang datang, ia pun segera menarik selimutnya kembali.

“Tabib sudah siap, bos,” kata Nasruddin di depan pintu kamar, “dan yang lainnya juga.”

Majikannya yang sudah bermuka masam jadi bengong menatap Nasruddin. “Yang lainnya juga, bagaimana?”

Nasruddin merapatkan pintu dan mendekati majikannya.

“Begini Bos, biasanya kan sesudah tabib memeriksa kondisi sakit ia akan membuat resep obat, maka biar sekaligus saya panggil juga yang jual bahan obat. Nah, obat kan perlu direbus maka saya bawa juga tukang arang. Namanya pengobatan belum tentu juga berhasil dan menyembuhkan, kan ya?”

“Iya, benar.”

“Nah, untuk jaga-jaga saja, biar sekaligus, saya bawakan juga tukang gali kuburnya.”

“????”@

 

( Kisah ini ditulis ulang oleh penulis dari khazanah cerita rakyat yang dinisbatkan kepada Nasruddin Hoja dan guru-guru sufi yang bijaksana dari berbagai sumber)

 

Facebook Comments