PUISI-PUISI EWITH BAHAR; MEMANDANG DARI KEJAUHAN
MEMANDANG DARI KEJAUHAN
Telah kususur jalan liku yang pernah kautempuh
Ribuan siang ribuan pagi
Yang membuatku lebih paham
Perihal mata merah dan baju yang kerap tak sempat kautukar...
PUISI-PUISI VITO PRASETYO; SESUDAH ZAMAN BICARA
SESUDAH ZAMAN BICARA
Andai siang tak pernah tercipta
kita tak akan pernah tahu apa itu matahari
dan malam menjadi puisi yang tak akan pernah bercerita tentang mimpi
Putih...
PUISI-PUISI MUHAMMAD DAFFA; NABI PUISI
NABI PUISI
Nabi-nabi menyumbangkan lidahnya
Kepada sebuah kitab puisi
Berharap ada seseorang yang menemukannya
Dan memakai ulang lidah itu
Di sebuah upacara pertobatan
Surabaya, Mei 2021
DARI ARAH JENDELA
Berpeluklah pada kesedihan...
PUISI-PUISI IRAWAN SANDHYA WIRAATMAJA; DI KEDAI KOPI SUATU SIANG
DI KEDAI KOPI SUATU SIANG
Akhirnya aku harus paham bahwa matahari
Selalu menyembunyikan warna kopi yang sesungguhnya
Di antara cahaya yang berpendar
Menjadi partikel-partikel besi yang kecil dan...
PUISI-PUISI ISWADI BAHARDUR; KOOPTASI GONGGONGAN ANJING
KOOPTASI GONGGONGAN ANJING
Kau bentang perjanjian hening di kepalaku
sebelum lentik jemari menjadi kupu-kupu kota
“kau jauh lebih singa bila mencintai kitab wanita warisan nenekku” bisikmu
menyambut sepasang...
PUISI-PUISI NI WAYAN IDAYATI; SELAMAT PAGI PEDRO
SELAMAT PAGI PEDRO
Selamat pagi, Pedro
Apa kabar kutu-kutumu hari ini?
Apakah masih sibuk menggigiti kulitmu
atau diam-diam melompat cari inang baru?
Gang dan lorong mana yang hari ini...
PUISI-PUISI FOEZA HUTABARAT; SUJUD DI AL-AQSA
SUJUD DI AL-AQSA
tembok ratapan masih sunyi sepagi ini
kutapaki selasar batu sejak masa Sulaiman
sisa hujan menciumi ujung kets kakiku
dingin menikam hingga tulang
kulewati tiga tentara zionis...
PUISI-PUISI TJAHJONO WIDARMANTO; WANGSIT LANGIT
WANGSIT LANGIT
apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?
seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu
bisakah warna itu...
PUISI-PUISI BUDHI SETYAWAN; ARWAH KUCING
ARWAH KUCING
sepasang matanya mencakar cuaca
mengusap detakku
pada temu tatap sore itu
semacam perkenalan yang tak direncanakan
menaut ke sulur gerimis
yang dikirimkan cemas remang
berasa teramat perlahan mengiris
jelajah lengang...
PUISI-PUISI ISBEDY STIAWAN ZS; TAK PERLU BERTANYA
TAK PERLU BERTANYA
tak perlu kau bertanya kapan embun
datang dan bila pula pergi. karena
daun sudah tak lagi punya tubuh
untuk menerima kehadirannya
apalagi pergi — bahkan tanpa
pamit...

































