Selasa, 1 September 2026






Beranda SASTRA Halaman 14

SASTRA

LAMBU MANGKURAT (BABAK II): RAJA HANDAK BABINI

BABAK  II Baisukan nangitu, marga asa kada manyandang lagi bapikir saurang, basungsungan ari Mahapatih Lambu Mangkurat hudah bakiawan Aria Magatsari wan Tumanggung Tatah Jiwa, panganan...

PUISI-PUISI NI WAYAN IDAYATI; SELAMAT PAGI PEDRO

SELAMAT PAGI PEDRO Selamat pagi, Pedro Apa kabar kutu-kutumu hari ini? Apakah masih sibuk menggigiti kulitmu atau diam-diam melompat cari inang baru? Gang dan lorong mana yang hari ini...

PROLOG DAN BABAK I: PANGGUNG WAN KARAJAAN NAGARA DIPA

P R O L O G Malam nangitu, bangsa pukul walu kurang saparapat, di Gadung Balairungsari hudah banyak urang datangan. Sapalih hudah simpun dudukan di...

CERPEN: DARI KRANGGAN KE KRAPYAK WETAN

KEADAAN sedang sulit. Masa pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung lebih setahun, membuat Yuzak bagai terkepung musuh yang tidak kelihatan. Sebagaimana Yuzak, hampir semua...

PUISI-PUISI FOEZA HUTABARAT; SUJUD DI AL-AQSA

SUJUD DI AL-AQSA tembok ratapan masih sunyi sepagi ini kutapaki selasar batu sejak masa Sulaiman sisa hujan menciumi ujung kets kakiku dingin menikam hingga tulang kulewati tiga tentara zionis...

PUISI-PUISI TJAHJONO WIDARMANTO; WANGSIT LANGIT

WANGSIT LANGIT apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu? seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu bisakah warna itu...

BALADUMAN

Parak lumus bulan puasaan, paampihannya hari ngini ganap talung puluh ari puasaan, mampas malam Hari Raya. Arinya rahat bahindau muru imbah limpua baparu puasaan...

CERPEN: BULAN DAN KEMBALI MELAUT

Gelap baru saja beranjak disertai derap langkah kaki yang beriringan di atas tanah berdebu ketika para nelayan menuju garis pantai tempat perahu-perahu kecil berbaris....

PUISI-PUISI BUDHI SETYAWAN; ARWAH KUCING

ARWAH KUCING sepasang matanya mencakar cuaca mengusap detakku pada temu tatap sore itu semacam perkenalan yang tak direncanakan menaut ke sulur gerimis yang dikirimkan cemas remang berasa teramat perlahan mengiris jelajah lengang...

MENANGISI BATANG PISANG

“Kalau kamu gitu terus cepat kamu mati! Kamu kira mati itu enak!” Naq Nurnep tengah memasukkan beberapa pelepah kelapa kering ke dalam lubang tungku....