CERPEN: DARI KRANGGAN KE KRAPYAK WETAN
KEADAAN sedang sulit. Masa pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung lebih setahun, membuat Yuzak bagai terkepung musuh yang tidak kelihatan. Sebagaimana Yuzak, hampir semua...
PUISI-PUISI FOEZA HUTABARAT; SUJUD DI AL-AQSA
SUJUD DI AL-AQSA
tembok ratapan masih sunyi sepagi ini
kutapaki selasar batu sejak masa Sulaiman
sisa hujan menciumi ujung kets kakiku
dingin menikam hingga tulang
kulewati tiga tentara zionis...
PUISI-PUISI TJAHJONO WIDARMANTO; WANGSIT LANGIT
WANGSIT LANGIT
apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?
seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu
bisakah warna itu...
CERPEN: BULAN DAN KEMBALI MELAUT
Gelap baru saja beranjak disertai derap langkah kaki yang beriringan di atas tanah berdebu ketika para nelayan menuju garis pantai tempat perahu-perahu kecil berbaris....
PUISI-PUISI BUDHI SETYAWAN; ARWAH KUCING
ARWAH KUCING
sepasang matanya mencakar cuaca
mengusap detakku
pada temu tatap sore itu
semacam perkenalan yang tak direncanakan
menaut ke sulur gerimis
yang dikirimkan cemas remang
berasa teramat perlahan mengiris
jelajah lengang...
MENANGISI BATANG PISANG
“Kalau kamu gitu terus cepat kamu mati! Kamu kira mati itu enak!” Naq Nurnep tengah memasukkan beberapa pelepah kelapa kering ke dalam lubang tungku....
TANAH PERANG
“Sudah sekian lama kita berlayar, tapi kenapa lautan seperti masih menyimpan amarah, tak pernah kita temui keadaan laut sedang tenang.”
“Barangkali laut juga ikut marah...
PUISI-PUISI ISBEDY STIAWAN ZS; TAK PERLU BERTANYA
TAK PERLU BERTANYA
tak perlu kau bertanya kapan embun
datang dan bila pula pergi. karena
daun sudah tak lagi punya tubuh
untuk menerima kehadirannya
apalagi pergi — bahkan tanpa
pamit...
LOK BAINTAN
Basubuhan, parahatan hawa kanyam, batang banyu si’ip, di tabing rumah babanjar-banjar gatinggiran. Ambun baluman rasap di pucuk kalakai, padang rumbia hinip maalur gambut.
Imbah sumbahiyang...
































