MALMÖ DAN PEREMPUAN YANG MENUNGGU

Ketika senja tiba, aku pergi ke pelabuhan
Karena hanya burung-burung camar
Yang setia pada kesedihan

Lalu aku baca “Bed Om Ett,” doa Boye
Dengan harapan, angin timur membawa kabar
Tentang mimpi musim panas
Janji yang kau ikrarkan di ujung ciuman

Ini tahun ketiga dan waktu seperti bara
Menghanguskan rambutku, juga ranjang
Yang masih menyimpan asin laut tubuhmu

Malmö adalah aku
Dermaga yang menunggu kapal kepulanganmu


JIKA SEKIRANYA

Jika sekiranya kau tak lagi bisa bernyanyi
Lantaran kenyataan hidup menjahit paksa manis bibirmu
Izinkan aku bersenandung kecil, sekedar mengingatkan
Bahwa sesungguhnya tak ada perbedaan antara duri dan mawar
Bagi jiwa yang merdeka

Jika sekiranya hari-harimu adalah hitungan waktu
Dari detik-detik kekhawatiran akan masa depan
Perkenankan aku membisikkan lembut semilir angin
Agar kau dapat sejenak memejamkan mata, untuk sebuah kesadaran
Bahwa hidup bukanlah rumusan baku yang akan selalu begitu


ALUN-ALUN SELATAN, 4 OKTOBER 2006

Hari itu, langit menghantarkan sore penuh debar
Bergemuruh di dadaku, berdegup di dadamu

Siapakah yang sanggup menahan ketukan rindu
Di pintu hati yang lama beku?

Kau telah menghindari jalan ini ribuan kali
Dan aku sengaja menyesatkan diri ke balik malam dan mimpi

Tapi hari itu, di sore yang penuh debar itu
Airmata, sanggup meluluhkan batu

Facebook Comments